Berita Terkini
Nasional

Bahayanya Blue Whale Challenge, Permainan yang Mendorong Bunuh Diri

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Minggu, 16 September 2018 15:04 WIB · 4 menit baca
Bahayanya Blue Whale Challenge, Permainan yang Mendorong Bunuh Diri
ILUSTRASI

PUBLIKSATU, Permainan bersifat tantangan ini berhasil bikin geger masyarakat. Ada sejumlah pendapat yang berbeda tentang asal muasal Blue Whale.

Tetapi banyak orang percaya bahwa nama itu diambil dari perilaku sejumlah paus biru yang sengaja mendamparkan diri mereka ke pinggir pantai. Menyebabkan mereka mati.

Nama ini kemudian digunakan oleh kelompok yang diduga melakukan tekanan pada remaja untuk melakukan bunuh diri. Permainannya cukup sederhana, ada seorang kurator yang akan memberikan 50 tugas pada para peserta selama 50 hari.

Jenis tantangan yang diberikan meningkat dari menonton video kekerasan atau film horor ke sesuatu yang lebih mengerikan -bahkan seruan bunuh diri.

"Untuk anak-anak, tolong jangan langsung menelan mentah-mentah semua informasi dari luar," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Barat, Suprianus Herman, dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Minggu (16/9).

Ia mengimbau kepada khususnya siswa sekolah agar mengakses permainan yang bersifat positif. Game yang bersifat mengasah otak. Herman tak menampik, blue whale challenge sangat berbahaya. Karena dari 50 hari tantangan itu sampai ada yang mati dan bunuh diri.

Sehingga ia menilai, permainan semacam itu tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan setiap orang yang ikut bermain.

"Jangankan sampai mati seperti itu. Main game normal berjam-jam saja sudah tidak baik," tegasnya.

Herman pun menyarankan kepada seluruh anak agar terus melakukan kegiatan positif, baik di rumah maupun di luar rumah. Hal itu bisa dimulai dari memperkuat iman dan taqwa. Selain itu, juga banyak kegiatan sekolah yang positif.

"Jangan yang tidak jelas seperti itu diambil," pintanya.

Ia menuturkan, kurikulum 2013 adalah bentuk antisipasi serta pengawasan dari pemerintah dalam meng-handle persoalan semacam ini. Di dalam kurikulum 2013 yang diutamakan adalah pendidikan karakter (pendikar).

"Tidak ada pendikar yang bisa diambil dalam permainan seperti ini," ucapnya.

Tujuan dari pendikar yakni membentuk anak yang baik. Berpikiran baik, berkepribadian baik, berperilaku baik. Di sekolah, keluarga, maupun di masyarakat.

"Jadi pendikar itu bukan ada mata pelajaran khusus. Tapi di semua mata pelajaran itu di integrasikan ada pendikarnya," jelas Herman.

Kepada orang tua, lanjut dia, agar tetap memberikan pendampingan positif untuk anak-anak. Berikan pendampingan dengan cara pengertian. Karena dasar pendikar adalah rumah tangga.

"Kalau orangtua tidak tentu rudu bagaimana anak mau benar," tukasnya.

Senada, psikolog klinis Kalbar, Maria Nafaola menuturkan, dari artikel yang telah dia baca tentang Blue Whale Challenge, kebanyakan memberi efek negatif. Tantangan yang berefek sampai merusak diri sendiri adalah perbuatan yang tidak baik.

"Beda kalau hanya sekadar challenge yang hanya sekedar menulis atau menggambar di tangan orang lain. Itu masih masuk akal,” tuturnya.

Maria memandang harus ada tindakan tegas dari pihak keamanan untuk meredam hal semacam ini. Bahkan harus mencari tahu siapa kurator di balik Blue Whale Challenge. Apakah kurator ini bermental sehat atau tidak.

"Kita harus berhati-hati. Jangan sampai kurator ini memberikan efek negatif karena mentalnya tidak sehat," ujarnya.

Parahnya lagi, orang-orang yang ikut dalam challenge ini diwajibkan untuk menonton video yang sifatnya melukai diri dan menyeramkan. Sehingga dapat membuat mental seseorang menjadi rusak.

"Sebagai orang dewasa harus mensosialisasikan ke orang tua dan anak-anak bahwa aktifitas ini tidak baik untuk mental," saran dia.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh orang tua, agar mengingatkan anak mereka untuk tidak ikut blue whale challenge.

Bisa saja ini merupakan bentuk teror baru, yang mengarah untuk melukai orang lain. Karena ketika orang sudah mengikuti suatu arahan awalnya yang ringan-ringan akan berakhir ke tantangan berat.

"Intinya saya lihat tulisan dari luar negeri. Ini sangat tanda tanya. Ada apa dengan kurator ini? Apa maunya?," tandas Maria.

Seperti diketahui, dunia pendidikan Indonesia sempat digoyang kekhawatiran beberapa waktu lalu. Efek negatif media sosial dikabarkan telah menerpa sejumlah siswa di Surabaya.

Mereka dengan mudahnya terpengaruh dan mengikuti permainan Blue Whale Challenge atau tantangan paus biru. Di luar negeri tantangan ini sebagai salah satu jalan bagi remaja untuk mengakhiri hidupnya.

Tentu fenomena ini membuat prihatin semua pihak, baik guru hingga orang tua. Menyusul adanya adanya siswa siswi yang rela menyakiti tubuh sendiri dengan silet. Mereka merupakan pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di kawasan Dukuh Pakis.

(jpg/est/JPC)