Berita Terkini
Tajuk

Konsistensi Festival Barata Kahedupa Wakatobi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 19 September 2018 01:02 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Konsistensi Festival Barata Kahedupa Wakatobi
publiksatu

KETENARAN Wakatobi sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun hanya akan menjadi sejarah bila tidak dijaga untuk mempertahankan cita rasa pariwisata yang menjadi kekuatannya. Salah satunya melalui iven Festival Barata Kahedupa.

Duet Sabangka Sarope di bawah kepemimpinan H Arhawi dan Ilmiati Daud menjadikan Wakatobi terus memperhatikan jati dirinya sebagai salah satu destinasi pariwisata terbaik bukan hanya di Indonesia, tapi juga dunia. Untuk itu pagelaran Festival Barata Kahedupa selama tiga hari sejak Senin (17/9) di Kaledupa kembali dihelat tahun ini. Salah satu bukti konsistensi mereka dengan kalender budaya dan pariwisata tahunan yang selalu digelar.

Dalam laman IG, Visit Wakatobi disebutkan, acara inti Festival Barata Kahedupa adalah Karia, artinya kemeriahan. Karia yang diadakan setiap tahun di Wakatobi sejatinya untuk merayakan berbagai peristiwa penting kehidupan, termasuk akikah untuk anak-anak, masa transisi dari remaja menjadi dewasa, hingga pernikahan.

Karia pada festival ini akan menjalankan seluruh prosesi adat saat masa transisi dari remaja ke dewasa secara lengkap. Karia diikuti anak-anak serta remaja putra dan putri yang belum menikah dari seluruh penjuru Kaledupa.

Remaja putri beserta Karia akan menjalani Sombo selama beberapa hari. Sebuah prosesi pingitan saat masa peralihan dari usia remaja ke dewasa. Selama sombo mereka diberi berbagai petuah, mempelajari seluk-beluk dari wanita dan mendapat perawatan kecantikan khusus. Doa-doa dipanjatkan pada prosesi mandi, sebelum dan sesudah sombo agar mereka diberi kelancaran dan kemudahan di masa depan.

Festival Barata Kahedupa terbagi dalam lima kegiatan, masing-masing Hanauka Nu' Mo'ane, Hanauka Nu' Wowine, Pagelaran Seni tradisional, Porimbi-rimbi, dan Hebangka-bangka.

Hanauka Nu' Mo'ane, penyelenggara dan peserta Putra akan diarak dari masjid menuju tempat Karia, biasanya di lapangan terbuka. Hanauka Nu' Wowine, saat penyelenggara dan peserta Putri ditandu dari rumah masing-masing menuju tempat Karia diiringi tarian dan nyanyian.

Saat puncak festival, peserta Karia akan mengenakan baju tradisional yang megah dengan berbagai pernak-pernik indah. Rambut remaja putri dihiasi mahkota keemasan dengan hiasan bunga. Pada momen ini untuk pertama kalinya peserta Putri menginjak tanah setelah masa sombo.

Porimbi-rimbi, proses penjajakan sebelum perjodohan remaja putra dan putri. Orang tua remaja putra akan mengajukan lamaran kepada pihak remaja putri. Diikuti dengan parade rumah-rumahan yang memuat makanan lokal, uang dan hasil bumi. Porimbi-rimbi tidak bersifat mengikat dapat berlanjut hingga dewasa atau tidak.

Hebangka-bangka, Karia ditutup dengan prosesi ini. Ditandai dengan larungan makanan tradisional (Harua) di atas kapal-kapal miniatur khas Wakatobi. Sebagai simbol pelepasan semua hal yang kurang baik selama Karia. Ritual ini dilaksanakan di Pulau Hoga.

Masuknya Pulau Hoga dalam lokus acara Festival Barata Kahedupa menggambarkan jualan acara tersebut secara holistik. Selain bernuansa budaya, juga bisa dijadikan sarana untuk menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri untuk menikmati panorama bawah laut Wakatobi. Salah satu spot terbaik berada di Pulau Hoga.(**)

Bagikan