Menjaga Muruah Pemkot Baubau

PEMERINTAH Kota Baubau sebentar lagi akan merayakan hari jadi Kota Baubau ke-477 dan hari ulang tahun (HUT) yang ke-17 sebagai daerah otonom. Seperti perayaan sebelumnya, tahun ini HUT kota pemilik benteng terluas di dunia ini akan diisi dengan sejumlah perhelatan. Salah satunya Baubau Expo.
Segala persiapan sudah dimatangkan. Untuk pelaksanaan Baubau Expo, rencananya akan digelar di pelataran Kotamara. Tenda-tenda untuk stan untuk memamerkan produk-produk Pemkot sudah mulai terpasang. Biasanya tenda-tenda itu bukan hanya menjadi stan untuk Pemkot tapi swasta juga ikut andil di dalamnya.
Tentu mereka membayar. Tapi tidak perlu kita masuk ke wilayah harga. Karena itu sudah urusan Pemkot dengan even organizer. Karena biasanya dalam penyelenggaraan HUT sebelumnya Pemkot tidak hanya menyelenggarakannya sendiri, tetapi selalu menggandeng pihak swasta. Utamanya dalam penyediaan tenda.
Saya kira itu hal yang wajar dalam konteks kekinian. Cuma yang tidak wajar kalau even organizer atau EO sudah mendominasi sebuah acara. Sehingga tidak bisa dibedakan acara tersebut sebenarnya penyelenggaranya siapa.
Dalam penyediaan stan di Baubau Expo sepertinya belum jelas, siapa yang akan menyelenggarakan kegiatan. Karena hingga saat ini simbol-simbol Pemkot Baubau belum terlalu terlihat. Justru yang berkibar sekarang bendera dua media massa yang ada di Kota Baubau yang nota bene selaku EO kegiatan terbesar di Kota Baubau itu.
Ini bisa menjadi momok, karena fenomena itu akan menguatkan image bahwa Pemkot saat ini sudah di bawah bayang-bayang media tertentu di Kota Baubau. Segala sesuatunya sudah ditentukan media tertentu itu. Kalau sudah seperti itu muruah (Wibawa) Pemkot yang buruk. Masyarakat akan menilai Pemkot sudah tidak ada apa-apanya.
Kita berharap Pemkot yang saat ini di bawah kendali Dr AS Tamrin dan La Ode Ahmad Monianse (Tampil Manis) semakin terpandang dan disegani oleh daerah-daerah lain di Sultra bahkan di Indonesia. Karena itu, kita berharap Pemkot bisa mengatur dirinya sendiri, tidak di bawah bayang-bayang pihak-pihak terentu.
Kalaupun even-even yang diselenggarakan di pihak ketigakan atau EO-nya pihak swasta, tapi jangan pihak swasta yang mendominasi. Pemkot harus nampak dan mendominasi. Bukan berarti simbol EO harus dihilangkan, namun tidak harus mendominasi Pemkot. Jangan sampai orang menilai bahwa Pemkot sudah dikendalikan. (***)