Negeri Khalifatul Khamis Bela Bendera Tauhid

AKSI pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oknum Banser terus menggelinding. Pembelaan terhadap bendera tauhid bukan hanya dari seantero Nusantara dan mancanegara, tapi juga dari jazirah Negeri Khalifatul Khamis.
Terbukti, Aliansi Umat Islam Kota Baubau dan Kabupaten Buton menggelar Aksi Bela Tauhid
mengutuk pembakaran bendera tauhid. Baubau digelar Sabtu (27/10), dan Buton dilaksanakan keesokan harinya.
Kemarahan umat Islam di seantero negeri dan dunia karena panggilan akidah. Hal itu merupakan perkara mendasar yang dimiliki manusia, keyakinan dalam beragama.
Konteks Baubau dan Buton yang secara historis merupakan eks wilayah Kesultanan Buton tentu masyarakatnya memiliki militansi kuat dalam perkara Islam. Keyakinan beragama masyarakat dan pemerintahan menyatu secara sosiologis dalam kehidupannya.
Sehingga ketika bendera tauhid dibakar, spontan mengundang kemarahan masyarakat.
Sejalan dengan Falsafah Buton: Yinda-Yindamo Arataa Somanamo Karo (biar tiadanya harta, demi keselamatan diri, keselamatan dunia akhirat). Yinda-yindamo Karo Somanamo Lipu (biar tiadanya diri, demi selamatnya negeri). Yinda-yindamo Lipu Somanamo Sara' (Biar tiadanya negeri, demi selamatnya dan tegaknya Syara' Allah Ta'ala). Yinda-yindamo Sara Somanamo Agama Sadaa-daa (biar tiadanya Syara' asal Agama tegak abadi, yaitu teguh mengagamakan diri walaupun di tengah-tengah pemerintahan yang zalim).
Lantas bagaimana untuk mengurangi tensi? Salah satu solusinya adalah aparat harus segera menyelesaikan persoalan tersebut dengan mengedepankan supremasi hukum yang memenuhi rasa keadilan. Namun demikian, seluruh komponen bangsa diharapkan tetap menjaga ukhuwah atau persatuan, jangan berpecah belah.(****)