Wajar Ada Yang Bilang Presiden pun Bisa Tidak Lulus
Bagikan

PUBLIKSATU, Polemik rekrutmen CPNS 2018 tidak hanya muncul saat pendaftaran. Tetapi juga berlangsung hingga pelaksanaan seleksi kompetensi dasar (SKD). Pemicunya, soal ujian dinilai terlalu sulit. Akibatnya, sebagian besar formasi kosong. Tidak ada satu pun pelamar yang mampu mengejar nilai ambang batas.
Untuk membuktikan soal SKD benar-benar sulit atau tidak, banyak cara. Misalnya, mengikuti layanan simulasi SKD di website Badan Kepegawaian Negara (BKN). Bisa juga membeli buku kumpulan prediksi soal SKD. Bahkan, yang lebih mudah, mengunduh aplikasi simulasi tes SKD melalui Google Play Store atau sejenisnya.
Wajar Ada Yang Bilang Presiden pun Bisa Tidak Lulus
Wartawan Jawa Pos Hilmi Setiawan (Jawa Pos Photo)
Setelah mempraktikkan sendiri simulasi tes CPNS melalui website resmi BKN dan aplikasi, ternyata memang banyak soal ujian yang sulit dijawab. Soal yang sulit itu terdapat pada materi ujian tes wawasan kebangsaan (TWK), tes inteligensia umum (TIU), maupun tes karakteristik pribadi (TKP).
Misalnya, ada soal materi TIU yang berbunyi: Banyak garis yang dapat dibuat dari 9 titik yang tersedia, dengan tidak ada 3 titik yang segaris adalah...
Soal tersebut mungkin mudah bagi pelamar lulusan fakultas MIPA atau FKIP pendidikan matematika. Tetapi, untuk sarjana jurusan yang lain, soal itu tentu sulit dijawab dengan benar.
Misalnya, saya adalah sarjana pendidikan agama Islam (PAI). Soal matematika tersebut tidak pernah saya pelajari selama empat tahun menempuh kuliah. Soal itu mungkin saja pernah diajarkan ketika saya di SMA. Tetapi sangat mungkin sudah terlupakan.
Total ada 30 butir soal untuk TIU. Setiap butir berbobot 5 poin. Jika benar semua, peserta mendapat skor 150 poin. Sementara itu, ambang batas untuk TIU adalah 80 poin. Artinya, pelamar harus bisa menjawab dengan benar 16 butir soal.
Selanjutnya, soal TKP sebenarnya gampang-gampang susah. Sebab, tidak ada pilihan jawaban yang salah. Artinya, semua jawaban benar. Perbedaannya, setiap pilihan jawaban memiliki bobot nilai yang berbeda. Karena itu, peserta harus bisa memilih jawaban yang memiliki bobot tertinggi.
Soalnya pun relatif mudah karena terkait dengan keseharian kita. Misalnya: Pada saat rapat dengan klien, teman Anda lupa membawa proposal tim Anda. Maka sikap Anda adalah? Pilihan jawaban untuk pertanyaan tersebut: (a) memarahinya karena ceroboh, (b) memintanya mengambil proposal yang tertinggal, (c) membatalkan rapat, (d) menjadwal ulang rapat, dan (e) mengirimkannya lewat kurir.
Ketika membaca seluruh pilihan jawaban, seluruhnya seperti tidak ada yang salah. Tetapi, banyak pilihan jawaban yang menjebak. Misalkan memilih jawaban yang positif-positif, belum tentu pula nilainya yang paling tinggi. Padahal, materi TKP itulah yang memiliki nilai ambang batas paling tinggi. Yakni, 143 poin bagi pelamar CPNS jalur umum.
Menyimak begitu banyaknya soal ujian yang sulit dijawab, wajar jika kemudian ada seorang dosen yang bilang bahwa sekelas presiden pun bisa tidak lulus ketika ikut SKD CPNS 2018. Niat pemerintah membuat soal yang berkualitas dan menetapkan ambang batas tentu positif. Namun, ketika membuat soal ujian, perlu dipertimbangkan kondisi pelamar formasinya.
Pelaksanaan tes CPNS sudah menggunakan komputer. Seharusnya bisa memanfaatkan kecerdasan buatan sehingga peserta ujian tidak menerima soal secara acak. Tetapi, mereka menerima soal ujian yang disesuaikan dengan bidang formasi yang dilamar.
Caranya, sejak di bank data, butir soal ujian sudah diklasifikasikan untuk tiap-tiap formasi. Ada butir soal yang bersifat umum. Artinya, berlaku untuk seluruh jenis formasi. Namun, ada pula soal yang bersifat khusus. Disesuaikan dengan formasi yang dilamar. Dengan demikian, antara pelamar instruktur tari dan juru ukur pertanahan bisa mendapatkan varian soal yang berbeda-beda.
Pemerintah sejatinya ingin formasi terisi atau ingin menyaring pelamar yang mampu menembus passing grade. Jika paradigmanya ingin formasi terisi, cukup menggunakan sistem ranking. Jadi, peserta yang mendapatkan nilai tertinggi dijaring. Kalaupun nilai seluruh peserta pada sebuah formasi jelek-jelek, ya tetap diambil yang terbaik di antara yang jelek-jelek itu.
Sistem passing grade lebih cocok untuk seleksi yang tidak mempertimbangkan kuantitas, tetapi kualitas. Jadi, berapa pun yang lolos passing grade, tidak jadi persoalan. Dijaring apa adanya. Kalau ada formasi kosong, tahun depan dibuka seleksi lagi. Siapa tahu dalam tempo setahun ini pelamar benar-benar mempersiapkan diri. Ikut bimbingan belajar supaya bisa mengerjakan soal dengan baik.
(*/c5/oni)