Grace Sebut Perda Syariah Pemicu Ketidakadilan, Pengamat : Tidak Mengerti Pancasila
Bagikan

PUBLIKSATU.CO - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie melontarkan pernyataan kontroversial. Dia menilai peraturan daerah (perda) baik syariah ataupun injil menjadi salah satu pemicu ketidakadilan di masyarakat. Bahkan membuat ketidakleluasaan masyarakat yang menganut agama minoritas dalam menjalankan ibadah keagamaanya.
Grace menyampaikan pernyataan itu dalam acara HUT ke-4 PSI, Minggu (11/11) lalu. Meski sudah lebih sepekan berlalu, pidato tersebut masih memicu polemik. Salah satunya di Sumatera Barat (Sumbar) yang hampir setiap kabupaten/kotanya memiliki perda syariah.
Termasuk Pemprov Sumbar sendiri. Mulai dari Perda Berpakaian Muslim, Perda Pandai Baca Tulis Alquran hingga Perda Penyakit Masyarakat. Bahkan, Ketua MUI Sumbar telah menegaskan agar umat Islam tidak memilih parpol anti-syariat islam.
Pengamat politik asal Sumbar, Najmudin Rasul mengatakan, perda syariah atau injil hanya terdapat di daerah-daerah tertentu. Penyusunannya juga melalui mekanisme jelas. Apalagi perda syariah tidak menuntut pihak lain, selain umat agama itu sendiri.
Seperti di Sumbar, Perda Berpakaian Muslim dan Perda Pandai Baca Tulis Alquran hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Tidak untuk penganut agama lain.
Menurut Najmudin, itulah keberagaman sesungguhnya yang sesuai dengan Pancasila. "Itu tandanya, Grace Natalie tidak mengerti Pancasila," kata Najmudin kepada JawaPos.com di Padang, Sumbar, Rabu (21/11).
Pakar komunikasi politik lulusan Malaysia itu menilai, Grace ingin menjadikan perda sebagai isu politik dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. Namun, Grac kurang paham hakikat perda tersebut. Sehingga yang lahir justru kegaduhan dan kritik. "Isu tersebut dapat merugikan Jokowi dan PSI sendiri," beber Najmudin.
(rcc/JPC)