Jembatan Darurat untuk Warga Bukit Galah Karangasem yang Terisolir

PUBLIKSATU, AMLAPURA - Warga Desa Adat Bukit Galah, Karangasem bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem dan beberapa pihak terkait lainnya, gotong royong membangun jembatan darurat, Jumat (30/11) kemarin. Pembuatan jembatan itu menyikapi jalan putus menuju desa setempat.
Jembatan darurat dari kayu dan bambu, di atasnya diisi bedek (anyaman bambu). Jembatan tersebut mendesak karena pascajalan tergerus, Kamis (29/11) lalu, ada 145 jiwa warga Bukit Galah terisolasi. Sebab, itu satu-satunya akses masyarakat keluar dari desa yang diapit sungai itu. Sebab, ada satu lagi akses yang harus menyeberangi Tukad Sabuh, dan tembus di Yeh Kori, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, sama sekali tak bisa dilewati pascaerupsi Gunung Agung.
Kepala Pelaksana BPBD Karangasem IB Ketut Arimbawa menjelaskan, jembatan darurat itu dibuat biar warga tak terisolasi. Terlebih pemukiman warga yang secara administrasi masuk Dusun Sogra, Desa Sebudi itu tergolong dekat dengan Gunung Agung yang saat aktivitasnya pada level III (Siaga). Tidak menutup kemungkinan erupsi terjadi.
“Biar tidak terisolasi, untuk sementara dibuatkan jembatan darurat biar sepeda motor juga bisa lewat,” jelas Arimbawa.
Bagaimana dengan jangka panjangnya? Pejabat asal Buleleng belum berani menjanjikan apa-apa. Ia mengaku menunggu hasil rapat dengan Tim Koordinasi Penanganan Bencana Kabupatan Karangasem, dengan koordinator Sekda Karangasem I Gede Adnya Mulyadi.
Memang secara kasat mata, kerusakan akses itu masuk darurat untuk diperbaiki. Karena jumlah warga yang terisolasi mencarai 145 jiwa. Hujan yang mulai turun sejak beberapa hari tak menutup kemungkinan semakin merusak jalan tersebut. Selain itu, wilayah Bukit Galah termasuk dekat Gunung Agung. “Tapi kami masih rapat dulu dengan tim. Sebelum mengeluarkan dana tak terduga untuk bencana alam perlu kajian dulu,” tandas Arimbawa.
Seperti diketahui, kekhawatiran menyelimuti warga Desa Adat Bukit Galah, Kamis malam. Sebab mereka tidak bisa keluar dari desanya karena jalan putus. Warga yang terdiri dari 33 kepala keluarga (KK) itu sebenarnya baru sekitar tiga pekan kembali dari pengungsian karena erupsi Gunung Agung. “Kami lama mengungsi karena jalan putus akibat erupsi Gunung Agung,” ujar Bendesa Adat Bukit Galah I Putu Suyasa Kamis malam.
(bx/wan/yes/JPR)