Berita Terkini
Nasional

Komoditas Pertanian Sehat dan Aman Modal Besar Ekspor Indonesia

Oleh Redaksi Publiksatu / Heri · Sabtu, 1 Desember 2018 15:17 WIB · 4 menit baca
Komoditas Pertanian Sehat dan Aman Modal Besar Ekspor Indonesia
Menteri Pertanian Andi Amran

PUBLIKSATU, Karantina pertanian yang dilakukan Kementerian Pertanian untuk memperkuat sistem dan layanan perkarantinaan agar produk pertanian dapat terjamin kesehatan dan keamanannya.

"Komoditas pertanian yang sehat dan aman adalah modal besar kita," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat memberikan arahan kepada pejabat karantina pertanian dari seluruh Indonesia di Jakarta, Jumat (30/11).

Dia mengatakan bahwa produk pertanian dapat menembus pasar global bila Indonesia mampu memenuhi persyaratan. Kementan melalui Badan Karantina Pertanian selama empat tahun terakhir telah melakukan perundingan Sanitary and Phytosanitary (SPS) serta protokol karantina dengan 18 negara.

"Kementan lakukan pendampingan kepada petani guna pemenuhan persyaratan protokol karantinanya," kata Menteri Amran.

Sebagai contoh, komoditas manggis yang telah melalui negosiasi perkarantinaan berhasil menembus pasar ekspor. Tercatat 31.296,00 ton di tahun 2015, 30.099,67 ton di tahun 2016, 11.427,77 ton pada 2017 dan di tahun 2018 volume 26.939,20 ton manggis sampai dengan bulan Oktober. Dengan nilai dagang total Rp 11,62 triliun. Buah eksotik itu mampu tembus pasar di 24 negara. Selain memberikan jaminan bebas terhadap penyakit kutu putih, Barantan juga berikan layanan pemeriksaan karantina di tempat pemilik atau inline inspection.

"Yang menarik adalah ekspor 10 komoditas pertanian strategis nilainya sudah mencapai Rp 1062 triliun yaitu separuh dari nilai APBN kita," ujar Menteri Amran.

Komoditas lain dengan kesisteman perkarantinaan antar negara yang telah dibangun dengan baik adalah sarang burung walet (SBW). Komoditas ini terus didorong untuk memenuhi persyaratan protokol karantina. Tren peningkatan nilai dagangnya juga terus naik di kurun waktu empat tahun terakhir. Tercatat volume ekspor masing-masing 700.66 ton di tahun 2015, 773,22 ton tahun 2016, 1.158,15 ton tahun 2017 dan sampai Oktober 2018 mencapai volume 1.136,09 ton. Dengan total nilai dagang Rp 107,2 triliun.

Selain terus membuka akses pasar di pasar global untuk produk konvensional ekspor, komoditas pertanian yang unik juga telah mulai masuki pasar ekspor. Selain kualitas, adanya persyaratan SPS yang dipenuhi membuat komoditas seperti daun ketapang, daun lontar, dan sapu lidi dapat diterima pasar internasional.

Saat ini Barantan telah melakukan empat perjanjian SPS untuk mengakselerasi ekspor. Yakni Indonesia-Australia Comphrehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) untuk komoditas cokelat, manggis, salak, kopi dengan total nilai ekspor USD 667,8, Indonesia-Chile CEPA untuk komoditas CPO dan jagung dengan total USD 143,8 juta, Asian Hongkong-China FTA dengan produk tepung kelapa, SBW, kopi, madu, cokelat, teh, kopi, madu, dan reptil dengan nilai ekspor USD 3 miliar, dan Indonesia-EFTA CEPA dengan komoditas rempah, kakao, kopi, teh, produk kayu dan ikan dengan nilai ekspor USD 1,2 miliar.

"Kemudahan izin dan percepatan layanan bagi eksportir yang akan melakukan ekspor produk pertanian menjadi fokus kami. Terlebih di tengah kondisi pasar global yang tidak menentu saat ini," kata Menteri Amran.

"Terobosan kebijakan dan inovasi berbasis teknologi informasi menjadi kunci utama. Presiden sudah menginstruksikan, bila perlu diantar ke rumahnya," tambahnya.

Selain mendorong kebijakan pada proses bisnis, Kementan juga lakukan penguatan pengawasan. Mengingat wilayah NKRI yang berbentuk kepulauan dengan banyak pintu dengan ancaman potensi masuknya hama penyakit dan tumbuhan. Bekerja sama dengan instansi keamanan kepolisan dan TNI mengawasi empat zona rawan yakni pesisir Sumatera, Kalimatan dan Sulawesi dan, Nusa Tenggara dan sekitar serta perbatasan Papua dan sekitar.

Pencegahan pada komoditas strategis yang dapat merugikan negara telah berhasil dilakukan dengan kerja sama ini. Dari data hasil operasi bersama yang besar selama kurun waktu empat tahun terakhir antara lain bawang, daging, beras, vanili, benih jarak, dan pakan ternak.

Reformasi birokrasi untuk menjamin integritas petugas dalam melayani serta pemanfaat teknologi informasi pada semua lini layanan perkarantinaan menjadi penting, terlebih guna mengantarkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045.

"Sejalan dengan misi Kementan untuk menjadi lumbung pangan dunia, maka layanan perkarantinaan berkelas dunia jadi satu keharusan," pungkas Menteri Amran.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Barantan Banun Harpini menyampikan bahwa karantina pertanian telah membuat grand design menuju karantina berkelas dunia yaitu salah satunya adalah menerapkan sistem manajemen preborder di mana perlindungan sumber daya hayati tidak hanya dilakukan saat produk impor masuk ke dalam saja tetapi sebelum produk tersebut dikirim ke Indonesia terlebih dahulu dilakukan proses registrasi, audit kebun maupun establishment untuk produk hewan di negara asal.

"Karantina Indonesia dalam SPS agreement tidak hanya diminta untuk mempercepat arus perdagangan tetapi juga menjaga produk yang di lalu lintaskan sehat dan aman untuk dikonsumsi," jelasnya.

Banun menambahkan, sistem manajeman preborder juga diterapkan untuk ekspor yaitu dengan cara mendatangi tempat produksi dan juga memperkuat sistem registrasi untuk menjamin tempat produksi tersebut sehat dan aman di negara yang akan menjadi tujuan ekspor produk Indonesia. (int)