Menangis di Monas

TAK terasa air mata saya pecah di Monas, Minggu (2/12). Sedih karena energi spiritual mengalir deras di dalam darah melihat lautan manusia tumpah ruah sejak malam untuk menghadiri Reuni Akbar 212.
Bukan hanya saya yang menangis, bahkan jamaah yang berada disekitar saya tak kuasa menahan bulir air mata terus jatuh membasahi pipi. Suara tangisan bersahutan, apalagi ditambah dengan lantunan bacaan Alquran yang dibacakan imam.
Tangisan semakin pecah ketika imam membacakan doa qunut di penghujung salat Witir. Seolah jamaah menyadari, dosa yang selama ini dilakukan, dan kebutuhan umat untuk menjadikannya mulia dengan Islam.
Ya, menangis di Monas. Suasana bertambah syahdu karena isak tangis pecah dari lautan manusia yang salat lail berjamaah di Monas. Beberapa kali saya menyeka air mata yang tak mau kompromi.
Monas sejak malam memang sudah dipenuhi jamaah. Salah seorang peserta dari Bogor mengaku bergerak dari rumahnya ke Jakarta usai salat Isya. Tiba di Monas sekitar pukul 22.00. Mereka tidur beralaskan tikar, beratap langit. Luar biasa pengorbanannya. Itu pun harus menghadapi persekusi.
Hal tersebut bukan penghalang. Mereka berjumlah sekitar 30 orang tetap menuju ibukota negara. Dia mengaku tak pernah alpa mengikuti agenda 212 sejak Aksi Bela Islam (ABI) I pada 2016 dan II tahun 2017.
Ketika mendengar bahwa kami rombongan dari Sulawesi Tenggara, dia berucap,"Berarti lebih militan."
Menuju Monas saya bergabung dengan rombongan dari Sulawesi Tenggara. Di dalamnya saya lihat antara lain ada peserta asal Kendari, Konsel, Baubau, Buton, Buton Selatan (Busel), Buton Tengah (Buteng), Muna, dan Muna Barat (Mubar). Semua menggunakan pakaian yang dilengkapi dengan kalimat Tauhid. Termasuk bendera dan Panji Tauhid. Kami berjalan kaki dari penginapan menuju Monas berjarak 3 KM lebih sekitar satu jam.
Meski dini hari, jalan menuju Monas, sesak. Mobil pun macet.
Tiba di Monas, jamah lebih banyak lagi. Akhirnya rombongan kami terpecah menjadi berapa bagian. Beruntung posisi saya berjarak kurang lebih 300 Meter dari panggung utama. Letaknya dekat jalan masuk menuju panggung utama. Jadi setiap momen penting yang terjadi hampir semuanya terekam.
Misalnya, ketika puluhan penyandang cacat, kalangan difabel yang buta, berpegang tangan menuju dekat panggung utama. Saat musisi Ahmad Dhani melintas. Begitupun ketika sejumlah tokoh 212 yang masuk, diantaranya Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), dan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ustaz Ismail Yusanto.
Plus ketika tiang bambu besar dan Panji tauhid raksasa yang diarak menuju panggung utama, bersamaan dengan itu di awan terlukis lafaz Allah dalam bahasa Arab. Mengundang takjub peserta yang tiada tara. Semua kejadian tersebut terekam dalam video ponsel saya.
Pesan persatuan umat begitu kental dalam Reuni Akbar 212 kali ini yang diklaim panitia jumlahnya tembus delapan juta orang. Angka tersebut mengalahkan massa ABI I (sekitar tujuh juta) dan ABI II (empat juta). Menariknya acara tersebut juga dihadiri sejumlah peserta non muslim.
Pesertanya datang dari seluruh penjuru Nusantara. Bahkan dari mancanegara juga hadir dalam momentum bersejarah tersebut. Satu bendera tauhid dibakar, sejuta yang berkibar. ***