Gerabah Berusia 150-200 SM Ditemukan di Perairan Bondalem, Begini Penampakannya..

PUBLIKSATU, BULELENG – Sebanyak enam keping gerabah kuno ditemukan di perairan Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Gerabah yang diduga berangka tahun 150-200 Sebelum Masehi (SM) ini ditemukan secara tidak sengaja oleh para penyelam saat acara diving dalam rangka Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) pada November lalu.
Kepingan gerabah itu ditemukan pada kedalaman tak lebih dari 2-5 meter. Sedangkan posisinya berada sekitar 20 meter dari garis pantai. Hanya saja kondisi pecahan gerabah itu ditemukan sudah menyatu dengan karang.
Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng dan Balai Arkeologi Denpasar pada Kamis (13/12) lalu. Selanjutnya, Kasi Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Kadek Widiastra bersama staf teknis Pengamanan dan Penyelamatan Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali mendatangi lokasi temuan pada Rabu (19/12) kemarin.
Namun sayang, dari hasil analisinya, Staf BPCB Wayan Gede Yadnya Tenaya, menyebut pecahan gerabah itu tak memungkinkan untuk diangkat. Tenaya khawatir kondisi gerabah itu akan hancur jika tak diberlakukan dengan teknik dan sistem khusus.
Awalnya, Tenaya justru sempat meragukan temuan itu apakah benar adalah benda kuno atau tidak. Sebab di sekitar lokasi merupakan muara dari sungai Bondalem, dan di sekitranya juga merupakan tempat pembakaran mayat (setra).
“Apakah itu benda kuno atau tidak memang awalnya agak meragukan. Karena di sekitarnya ada muara sungai dan juga tempat pembakaran mayat. Apakah ini bukan sisa dari upacara,” ungkap Tenaya.
Hanya saja keraguan itu sirna seketika setelah dirinya melakukan pengamatan lebih jelas. Sejumlah pecahan gerabah itu ditemukan memiliki pola hias yang agak berbeda pada gerabah umumnya.
Menurutnya, pola hias yang disebut mencirikan jenis peralatan dari Tiongkok, Cina. Sehingga kuat dugaan pecahan gerabah yang diduga artefak itu berasal dari masa ekspedisi perdagangan dan pelayaran di tahun 150-200 sebelum masehi.
Alasannya, karena saat itu pesisir Buleleng ini sangat strategis dan menjadi jalur persilangan perdagangan di Indoneisia. Banyak juga pedaganga dari luar negeri yang datang untuk mencari hasil bumi di pedalaman Bali, melalui pesisir Pantai Bali Utara. Untuk memastikan hal tersebut, BPCB pun kembali akan menunggu hasil penelitian pasti dari Balai Arkeologi Denpasar.
Sebagai pelestari, pihaknya mengatakan segera akan melakukan pengkajian kawasan penyelamatan dan pemanfaatan ruang. Termasuk menentukan zonasi. Dengan harapan, kedepannya kawasan temuan bersejarah di Bondalem ini dapat dimanfaatkan oleh desa setempat, apakah untuk wisata diving atau dalam bentuk pengelolaan yang lainnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Balai Arkeologi Denpasar, Gusti Made Suarbawa, membenarkan bahwa pihaknya sempat menerima surat untuk penelitian. Hanya saja laporan itu belum sempat ditindaklanjuti lantaran padatnya jadwal melayani permintaan di Bali, NTB dan NTT. “Terus terang saja, kami belum sempat kesana, masih menunggu dijadwalkan dulu. Kalau penelitian dibawah laut juga perlu persiapan lebih,” ujar Suarbawa.
Suarbawa menyebut tak memungkiri jika di laut Desa Bondalem ditemukan situs dan benda bersejarah seperti gerabah. Mengingat, kawasan Pacung, Bondalem, Julah, Tejakula dari dahulu disinyalir ada indikasi sangat kuat terkait peradaban manusia.
“Jika memang memiliki pola hias arolet, maka temuan itu cendrung sama dengan temuan gerabah hasil eskavasi darat di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, beberapa tahun yang lalu yang berasal dari tahun 150-200 sebelum masehi,” tutupnya. (bx/dik/aim/JPR)