Jembatan Diterjang Lahar, Warga Temukus Besakih Ganti Pakai Kayu

PUBLIKSATU, Sudah dua tahun warga di Dusun Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem menanti pembangunan jembatan dari pemerintah. Sebab saat ini hanya ada jembatan darurat yang dibangun secara swadaya oleh warga.
Jembatan penghubung menuju Pura Tunggul Besi ambruk diterjang lahar dingin saat erupsi Gunung Agung 2017 lalu. Jembatan itu cukup padat dilintasi. Selain untuk mobilisasi selama agenda upacara agama, jembatan itu menjadi sarana penting bagi warga yang bermukim dekat pura menuju pusat desa, dusun lain, atau kota kecamatan.
Selama dua tahun ini, warga mesti hati-hati. Jembatan darurat dibangun hanya memakai bambu. Ini tentu saja menghambat perekonomian warga secara tidak langsung, lantaran jembatan hanya mampu dilalui pejalan kaki. Sementara pengendara motor belum bisa melintas.
Lama tak ada kepastian pemerintah, warga terpaksa memperbarui material jembatan menggunakan kayu. "Ya kami perbaiki kemarin sore (Minggu, 6/10). Semua warga turun gotong-royong itu. Konstruksi diganti kayu biar badan dan pondasi jembatan kuat," ungkap Kepala Dusun Temukus, Besakih Wayan Sudiana.
Dia mengungkapkan, pihak desa sudah dua kali melayangkan surat permohonan ke pemerintah. Surat permohonan perbaikan dilayangkan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Karangasem. Surat juga dituju ke Bupati Karangasem. "Kami diminta menunggu dulu," sambungnya.
Kata Sudiana, jembatan ini begitu penting bagi warga yang akan melaksanakan upacara di Pura Tunggul Besi. Warga sudah lama berharap kepastian pemerintah, namun tak kunjung ada jawaban pasti.
Soal biaya, pihaknya mendapat bantuan dari penyisihan keuntungan obyek wisata di sekitar Temukus. Untuk material telah didapat dari pelaba pura setempat. Dulu, saat pembangunan jembatan darurat pertama kalinya, dana yang dipakai merupakan hasil urunan warga. "Kami tentu ingin (jembatan) cepat dibangun," harap Sudiana.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Karangasem Ketut Prama Budarta meminta masyarakat bersabar. Sebab perencanaan pembangunan jembatan itu sudah dilakukan. Kini tinggal menunggu eksekusinya.
Dia menambahkan, jembatan kemungkinan mulai dibangun akhir 2019. Mengingat sumber dana kegiatan berasal dari dana penyisihan Pajak Hotel dan Restoran (PHR) dari Badung. "Nilainya sekitar Rp 1,4 miliar. Masyarakat bisa sabar dan kemungkinan akhir tahun ini (cair)," pungkas Prama Budarta. (baliexpress/jp)