Berita Terkini
Nasional

Harga Anjlok, Petani Salak Banting Setir ke Padi, 22 Ha Alih Fungsi

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Kamis, 10 Oktober 2019 01:57 WIB · 2 menit baca
Harga Anjlok, Petani Salak Banting Setir ke Padi, 22 Ha Alih Fungsi

PUBLIKSATU, Puluhan hektare lahan pertanian di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, beralih fungsi dari lahan salak menjadi lahan padi. Kondisi ini terjadi lantaran beberapa petani merana akibat harga salak yang terus anjlok.

Beberapa petani yang ditemui media ini menyebut, keuntungan dari hasil panen padi diperkirakan 80 persen lebih tinggi dari salak. Meski begitu, tidak semua petani menggantungkan harapan dengan beralih segmen. Masih ada juga yang membudidayakan salak sambil bertani padi.

"Ya dulu lahan saya salak. Sekarang coba menanam padi mumpung air ada, saluran irigasi sudah dibuka. Mudah-mudahan bisa dapat lebih (untung)," ujar Made Widi, petani asal Banjar Pesangkan, Duda Timur, Rabu (9/10).

Kata dia, hampir sebagian petani salak mengaku merugi saat musim panen. Penghasilan tak sebanding dengan biaya pengeluaran. "Petani salak yang dekat air pasti beralih. Warga yang jauh dari saluran irigasi tetap menanam salak," imbuh Widi.

Perbekel Duda Timur Gede Pawana merinci, ada sekitar 22 hektare dari total 864 hektare lahan pertanian beralih fungsi dari lahan salak ke padi. "Ya karena petani sebagian besar mempertimbangkan keuntungan yang didapat. Tidak salah juga, harga salak sekarang Rp 1.000 sampai Rp 2.000 per kilogram," ungkap Pawana.

Yang jadi masalah lain buat petani, biaya perawatan dengan penghasilan tidak sesuai. Ongkos angkut dari kebun sampai gudang penyimpanan buah sampai Rp 15 ribu belum termasuk ongkos angkut ke pasar.

Sejatinya, warga Duda Timur memang bertani padi sejak 1980-an. Namun seiring berjalan waktu, budidaya salak naik daun. Petani satu persatu beralih menanam salak. Ini juga membawa Desa Duda Timur menyamai eksistensi Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem sebagai sentra salak di Bali.

"Sudah 22 hektare beralih. Kemudian ada 2 hektare lagi tahun ini. Kami tidak khawatir juga misalnya kehilangan ciri atau landmark karena tidak semua beralih jadi lahan pertanian padi. Hanya yang lahannya mudah dapat air yang beralih," imbuhnya.

Dia menjelaskan, topografi desa sebagian besar berbukit. Lahan yang berada di dataran rendah masih bisa mendapat air dari sungai-sungai. Seperti Dusun Pesangkan, Pesangkan Anyar, dan Wates Kaja.

Sedangkan yang bermukim di wilayah perbukitan masih eksis bertani salak lantaran lokasinya cenderung minim air. Di antaranya Dusun Batugede, Juuk Legi, Putung, Pateh, Wates Kangin, serta Wates Tengah. "Irigasi mulai dibuka buat petani padi. Dulu karena menanam salak, salurannya dimatikan biar tidak ada rembesan air," sambung Pawana. (baliexpress/jp)