Berita Terkini
Internasional

Invasi Turki di Wilayah Kurdi, Bisa Lipat Gandakan Jumlah Pengungsi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 15 Oktober 2019 01:34 WIB · 3 menit baca
Invasi Turki di Wilayah Kurdi, Bisa Lipat Gandakan Jumlah Pengungsi

PUBLIKSATU.CO – Pelan tapi pasti, militer Turki memperluas area kekuasaannya di wilayah Kurdi. Minggu (13/19) mereka mengambil alih Kota Tal Abyad yang masuk area Kurdi di Syria. Bersamaan dengan itu, Presiden Donald Trump menginstruksikan seluruh pasukan AS ditarik dari Syria bagian utara.

Kebijakan Trump itu akan membuat Turki lebih leluasa menyerang area Kurdi. Kini, pasukan yang dikirim Presiden Recep Tayyip Erdogan itu menarget Syrian Democratic Forces (SDF) di Kota Ras Al Ain.

“Lebih dari 14 orang penduduk sipil terbunuh dalam pertempuran.” Demikian bunyi pernyataan Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) tentang konflik Sabtu (12/10) seperti dikutip Agence France-Presse kemarin. Artinya, lebih dari 50 nyawa warga sipil melayang sejak Turki menyerang Kurdi pada Rabu (9/10).

SOHR menambahkan bahwa kelompok pro-Turki mengeksekusi sembilan warga sipil di dekat Tal Abyad pada Sabtu lalu. Di antaranya adalah pejabat partai Kurdi dan sopirnya. Di pihak Turki, 18 penduduk sipil tewas akibat roket-roket Kurdi.

Turki berusaha menghalau SDF sampai sekitar 30 kilometer dari perbatasan. Itu akan berlaku di sepanjang 120 kilometer perbatasan dua negara. SDF harus meninggalkan kawasan itu karena Turki menganggap kelompok tersebut sebagai teroris.

Nanti, setelah perbatasan bersih dari SDF, Ankara bakal menjadikan kawasan itu sebagai zona perlindungan bagi sekitar 3 juta pengungsi Syria. Saat ini mereka berlindung di Turki. Saat perbatasan sudah jatuh ke tangan Turki, para pengungsi tersebut bakal dipindahkan ke zona itu.

Dalam pertempuran Turki melawan SDF di Tal Abyad, pasukan Kurdi terpaksa membiarkan kamp Ain Issa tidak terjaga. Padahal, di kamp itu ada lebih dari 12 ribu orang. Sekitar seribu di antara mereka adalah keluarga personel ISIS. “Kamp Ain Issa tanpa penjaga. Sekitar 785 anggota keluarga ISIS melarikan diri.” Demikian bunyi pernyataan resmi Kurdi.

Selama ini SDF adalah sekutu utama Amerika Serikat (AS) di Syria. Mereka membantu memerangi ISIS. Ada lebih dari 12 ribu personel ISIS di perbatasan Syria yang dihuni kaum Kurdi. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu lokasi tepat kamp penampung ISIS.

Keluarga ISIS yang melarikan diri dari Ain Issa itu membuat banyak pihak khawatir. Salah satunya Prancis. “Tentu kami khawatir dengan apa yang mungkin bakal terjadi. Karena itulah, kami ingin Turki secepatnya mengakhiri intervensinya,” tegas Jubir Pemerintah Prancis Sibeth Ndiaye.

Sebelumnya, Prancis dan Jerman membekukan penjualan senjata ke Turki. Keputusan yang akan dievaluasi lagi itu diambil pasca serangan Ankara ke Syria. Di mata Prancis, invasi Turki tidak bisa dibenarkan.

Erdogan menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur meski beberapa negara mengancam memberikan sanksi ekonomi. Juga, embargo senjata. Ancaman-ancaman itu tidak membuat Turki berubah pikiran. Pemimpin 65 tahun tersebut juga menolak berdialog dengan Kurdi.

Badan Kemanusiaan PBB OCHA mengungkapkan bahwa akibat operasi Turki itu, sekitar 130 ribu penduduk sipil harus mengungsi. Jubir OCHA Jens Laerke memperkirakan jumlahnya akan naik lebih dari tiga kali lipat jika serangan terus terjadi. Invasi masif Turki di kawasan Kurdi tersebut jelas akan melahirkan krisis kemanusiaan baru di Syria.

KAMP PENGUNGSI DI LINTASAN INVASI TURKI

Kamp Manbij Timur: 5.077 orang

Kamp Twahina: 8.158 orang

Kamp Ain Issa: 12.901 orang

Kamp Mabruka: 3.170 orang

Kamp Abu Khashab: 6.295 orang

Kamp Newroz: 295 orang

Kamp Roj: 1.700 orang

Kamp Al Hol: 68.600 orang

Kamp Areesheh: 8.812 orang

Catatan:

– Perempuan dan anak-anak keluarga ISIS menghuni Kamp Al Hol.

– Pasukan Kurdi menahan 12.000 anggota ISIS di tujuh tahanan rahasia. Sebanyak 4 ribu di antaranya adalah warga negara asing.