Berita Terkini
Nasional

Integrasi Moda Transportasi Umum Jaklingko Jadi Program Unggulan

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Kamis, 24 Oktober 2019 00:20 WIB · 4 menit baca
Integrasi Moda Transportasi Umum Jaklingko Jadi Program Unggulan

PUBLIKSATU, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya untuk mengatasi kemacetan dan masalah polusi udara yang terjadi di ibu kota. Salah satunya adalah integrasi antarmoda transportasi umum melalui program Jaklingko. Hal ini sesuai dengan sesuai Intruksi Gubernur (Ingub) Nomor 66 Tahun 2019 tentang pengendalian kualitas udara Jakarta.

Selain Jaklingko sebagai program unggulan, sistem ganjil genap (gage) juga membantu untuk mengatasi kemacetan dan polusi udara. Seperti di ruas jalan perluasan gage, rata-rata kecepatan kendaraan naik menjadi 25,56 km/jam dari sebelumnya 28,03 km/jam atau meningkat 9,25 persen. Waktu tempuh kendaraan pun terpangkas, dari 16,52 detik menjadi 14,91 detik.

Volume kendaraan sendiri turun drastis mencapai 25 persen di area gage. Namun angka itu masih dibawah target pemprov DKI untuk penurunan kendaraan 40 persen. Kondisi itu, secara tidak langsung berpengaruh pada aktivitas Transjakarta. Sebab di koridor gage terjadi peningkatan jumlah penumpang sebanyak 5 persen.

Berkurangnya kendaraan pribadi, berbanding lurus dengan kualitas udara di area gage. Dari 2 Pos pemantau Partikulate Meter (PM) 2,5 di Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan dan Kelapa Gading, masing-masing turun sekitar 9 persen.

Artinya dengan adanya perluasan ganjil genap pada dua pos pemantauan kualitas udara tersebut untuk PM 2,5 terjadi peningkatan atau penurunan volumenya dan masuk dalam ambang batas kualitas udara Jakarta dalam posisi baik. Karena semuanya sudah berada di bawah 65 mikrogram.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, saat ini di Jakarta ada 10.047 unit angkutan umum. Jumlah itu terdiri dari kendaraan jenis bus kecil, sedang dan besar. Untuk melancarakan program peremajaan, pemprov akan berkolaborasi dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

“Untuk implementasi pembatasan usia kendaraan angkutan umum sepuluh tahun akan direalisasikan maksimal pada 2020,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Selasa (22/10).

Nantinya Transjakarta akan menjalin kerja sama dengan operator angkutan umum dalam proses peremajaan. Program ini akan menggunakan uang subsidi yang diberikan kepada Transjakarta sebesar Rp 3,2 triliun. “Oleh sebab itu kami menganggarkan kurang lebih Rp 3,2 triliun untuk tahun 2019 dan kami berharap bahwa dengan pola ini, maka seluruh layanan angkutan umum target kami 2020 dapat mencakup coverage areanya 90 persen di Jakarta,” kata Syafrin.

Syafrin menjelaskan, dengan sistem seperti ini, nantinya biaya operasional angkutan umum akan dibayar oleh Pemprov DKI sesuai harga per kilometer. Operator hanya diminta melakukan peremajaan terhadap angkutannya. Sistem ini juga akan menjauhkan sopir dari sistem kejar setoran.

Lebih lanjut, Syafrin menargetkan sebanyak 10.047 angkutan umum di DKI Jakarta terintegrasi dalam Jak Lingko dan diremajakan pada tahun 2020, sehingga tidak ada lagi yang berusia di atas 10 tahun.

“Tentunya, keseluruhan armada akan diintegrasikan khususnya angkutan umum reguler, yaitu bus kecil, bus sedang, dan bus besar. Itu akan kita penuhi pada 2020 sebanyak 10.047 armada,” tegasnya.

Sejauh ini, jumlah armada yang tergabung dalam sistem Jak Lingko dan telah diremajakan sejumlah 3.359 unit, yang terdiri dari bus besar 1.779 unit, bus sedang 420 unit, dan bus kecil 1.160 unit. Peremajaan ini tidak hanya berlaku bagi armada yang memiliki trayek di Jakarta, melainkan juga yang berlaku di wilayah Jabodetabek serta mobil jenis penumpang.

Sementara itu, Direktur Utama PT Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan saat ini sudah ada tiga operator angkutan umum yang menyatakan siap untuk bekerja sama masuk dalam program Jaklingko. Mereka adalah Metromini, Kopaja dan Kopami Jaya. Transjakarta menyebut kerja sama ini dengan istilah ‘klik’.

“Dengan sudah dilalukan klik oleh Transjakarta maka sudah dilakukan negosiasi. Yang sedang dilakukan oleh Transjakarta sekarang adalah menjembatani, membantu bagaimana para opererator dapat memenuhi jumlah armada yang kita klik tersebut,” kata Agung.

Total armada yang diklik ini sebanyak 310 bus sedang. Dengan rincian 100 unit Metromini, 150 unit Kopaja, dan 60 unit Kopami Jaya. Jumlah itu diharapkan masih bisa terus ditambah sampai memenuhi kebutuhan warga DKI secara keseluruhan.

Agung juga menjelaskan peruntukan anggaran Rp 3,2 triliun yang disiapkan. Uang ini akan digunakan untuk 2 aspek. Pertama yakni untuk Transjakarta mengelola ekosistem operasional angkutan umum berbasis trayek di Jakarta. “Ada yang untuk pembiayaan baik itu membeli layanan dari operator dan itu teralokasi sekitar 50 persennya,” tutur dia.

Apabila masyarakat ingin mengetahui info lebih lengkap terkait trayek bus Transjakarta bisa membaca di website: www.transjakarta.co.id. (JP)