Berita Terkini
Nasional

Mengandung Suplemen Tak Ramah Anak, Satu Minuman Kemasan Dilarang Edar

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 23 Oktober 2019 23:58 WIB · 2 menit baca
Mengandung Suplemen Tak Ramah Anak, Satu Minuman Kemasan Dilarang Edar
SIDAK: Petugas Kesehatan Puskesmas Jati sedang mengambil sampel jajanan di SD 1 Jati Kulon kemarin.

PUBLIKSATU, Tim UPT Puskemas Jati bersama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Semarang melakukan sidak jajanan sekolah kemarin. Target sidak ini, kantin dan pedagang kaki lima (PKL) yang mangkal di beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Jati. Salah satunya di SD 1 Jati Kulon. Dalam sidak itu, belasan sampel makanan dan minuman diperiksa. Hasilnya, ada satu jenis minuman yang diketahui mengandung suplemen.

”Setelah kami periksa, minuman kemasan tersebut mengandung suplemen yang tidak baik untuk kesehatan. Sehingga kami sarankan untuk tidak diperjualbelikan lagi di sekolah,” jelas Kepala UPT Puskesmas Jati Amad Mochammad.

Menurutnya, suplemen tidak diberpolehkan untuk dikonsumsi anak-anak. Sementara 13 sampel makanan yang diperiksa dinyatakan bebas zat berbahaya. Jajanan yang diperiksa diantaranya mi lidi, pop corn, arum manis, macaroni goreng, sate bakso, sate usus, bakso hingga gulali.

”Uji laborat terhadap boraks, formalin, pewarna dan pemanis kami lakukan langsung di tempat. Hasilnya semua bebas zat berbahaya itu,” katanya.

Selain pemeriksaan sampel jajanan sekolah, tim juga melakukan sosialisasi. Sosialisasi ditujukan bukan hanya untuk PKL dan petugas kantin saja. Namun juga guru dan siswa. Dalam sosialisasi itu, diterangkan bahaya zat-zat kimia yang dimaksud.

Amad mengaku ini kegiatan rutin yang dilakukan tim Puskesmas Jati. Pengawasan ini dilakukan untuk menjamin kualitas makanan anak sekolah. Tujuannya agar makanan dan minuman yang dikonsumsi benar-benar sehat dan menyehatkan. Bebas dari bahan kimia berbahaya, sehingga tumbuh menjadi generasi sehat dan unggul.

Plt Bupati Kudus HM Hartopo beberapa waktu yang lalu mengimbau kepada pihak sekolah agar bisa menyeleksi jajan yang dikonsumsi siswa. Pihak sekolah harus mngontrol pedagang.

”Artinya sekolah juga menjamin jajan yang bisa masuk ke sekolah benar-benar higienis. Kalau bisa malah siswa dianjurkan untuk bawa bekal sendiri,” katanya. (radarkudus/jp)