Berita Terkini
Nasional

Pesan Bupati ke Santri: Lebih Baik Kecanduan Alquran dan Manut Kiai

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Kamis, 24 Oktober 2019 00:24 WIB · 4 menit baca
Pesan Bupati ke Santri: Lebih Baik Kecanduan Alquran dan Manut Kiai

PUBLIKSATU, Ribuan santri lintas generasi mulai anak-anak hingga orang tua ikut meriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 di sejumlah daerah kemarin. Mulai dari apel hingga kirab akbar.

Di Pati, digelar kirab menempuh jarak sejauh 2 kilometer dengan finish di Markas Kompi Senapan C Yonif/410 Alugoro. Ketua PC NU Yusuf Hasyim mengungkapkan, rute kirab yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya ini mengandung makna sinergitas. Antara ulama/santri dengan Polri dan TNI. ”Rombongan kirab dimulai di Mapolres Pati. Kemudian melintasi gedung PC NU Pati dan finish di markas TNI Kompi Senapan C Yonif/410 Alugoro. Ini melambangkan sinergitas untuk bersama-sama menjadi benteng negara,” terangnya.

Rombongan kirab diberangkatkan Wabup Saiful Arifin. Rombongan diawali dengan mobil patwal Satlantas Polres Pati. Disusul pasukan pembawa bendera merah putih, rombongan forkopimda, regu polisi, TNI, badan otonom NU, dan para santri dari seluruh Pati. Juga ada marching band dari perwalikan beberapa sekolah. Setelah finish di lapangan Markas Kompi Senapan C Yonif/410 Alugoro, rombongan kirab langsung menggelar apel HSN.

-

BERMAKNA SINERGITAS: Para santri mengikuti kirab HSN 2019 dimulai dari halaman Mapolres Pati melewati gedung PC NU dan finish di markas TNI Kompi Senapan C Yonif/410 Alugoro kemarin. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Kapolres Pati AKBP Jon Wesly mengatakan, sinergitas antara Polri dan masyarakat sangat penting. ”Kami berpesan, para generasi penerus bangsa yang memiliki kelebihan tertentu, nantinya di muncul menjadi pemimpin baru. Itu bisa dari para santri,” katanya.

Di Blora, usai apel digelar kirab ta’aruf. Rutenya, dari alun-alun menuju Jalan Pemuda, Jl Ahmad Yani, dan finish di GOR Mustika. Pawai diberangkatkan Bupati Djoko Nugroho dari depan Gapura Rumah Dinas Bupati atau Jalan Alun-Alun Utara.

Meski terik matahari menyengat, tak menyurutkan semangat ribuan santri yang mengikuti pawai. Beragam pertunjukan seni ditampilkan. Mulai hadroh, drumband, gerak dan tari, seni pencak silat Pagar Nusa, kostum batik carnival, hingga kesenian naga leang leong sebagai cermin akulturasi budaya yang ada di Blora. Ada juga arak-arakan membawa bendera Merah Putih raksasa oleh Banser sebagai pembuka pawai.

Bupati Djoko Nugroho mengungkapkan, sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin. Islam ramah dan moderat dalam beragama.

Untuk mendukung terciptanya perdamaian, bupati meminta agar santri di Kota Sate tak mudah termakan hoaks dan bijak menggunakan medsos. ”Jangan kecanduan smartphone. Lebih baik kecanduan baca Alquran dan manut petuah Pak Kiai pondok masing-masing,” ucapnya.

Wabup Arief Rohman selaku Ketua Peringatan Hari Santri 2019 Kabupaten Blora menyampaikan, rangkaian kegiatan HSN telah dilaksanakan. Baik tingkat kabupaten maupun kecamatan. ”Beberapa hari lalu diawali ziarah makam para tokoh NU. Kemudian ada pembacaan salawat nariyah masal di pesantren, masjid, dan musala. Ini untuk mendoakan bangsa Indonesia agar tetap aman, damai, dan sejahtera. Puncaknya hari ini (kemarin, Red) apel akbar dan pawai ta’aruf. Ada juga bakti sosial dan beragam lomba untuk santri,” terangnya.

Di Kudus, dalam momentum peringatan hari santri tahun ini, Pemkab Kudus menyebut santri bisa menjadi ujung tombak toleransi. ”Budaya pondok pesantren yang melekat dalam diri santri dirasa cukup untuk merepresentasikan hal itu. Dengan begitu, santri harus dibekali keahlian dan ilmu pengetahuan,” kata Sekda Kudus Sam’ani Intakoris.

Dia menegaskan, santri milenial harus tak hanya bisa ngaji dan ilmu agama. Juga harus melek teknologi untuk menghadapi era Industri 4.0. ”Mari sama-sama ikut mewujudkan visi Kudus. Jadikan Kudus yang religius, modern, cerdas, dan sejahtera,” katanya. Para santri juga diharapkan tak melupakan filosofi gusjigang yang diajarkan Sunan Kudus.

Dalam rangkaian peringatan hari santri, selain apel di Alun-alun Simpang Tujuh kemarin, juga ada pengajian umum bersama Habib Zainal Abidin dari grup rebana Az-Zahir dan Minggu (27/10) digelar jalan sehat santri di alun-alun.

Berbarengan dengan peringatan hari santri, di madrasah/sekolah naungan LP Ma’arif Kudus memiliki kebijakan menarik. Setiap tanggal 22 dan 23 setiap bulan, siswa diminta mengenakan baju muslim dipadu dengan sarung batik. Kebijakan ini menyesuaikan diwajibkannya ASN mengenakan setelan baju koko putih dan iket di kepala. Untuk perempuan mengenakan kebaya putih pada tanggal 23 setiap bulannya.

”Di MA NU TBS Kudus tak hanya setiap tanggal 22 dan 23, tetapi ditambah satu hari, setiap tanggal 7 penanggalan hijriah. Ini untuk mengingat tanggal berdirinya Madrasah TBS,” terang Waka Kurikulum MA NU TBS Kudus KH. Nur Chamim. (radarkudus/jp)