Museum Universitas Masih Anak Tiri
Bagikan

PUBLIKSATU, Museum universitas mengalami problem besar soal anggaran. Sebab, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) periode sebelumnya tidak menganggarkan dana khusus untuk pemeliharaan dan pengembangan. Padahal, museum universitas juga melaksanakan fungsinya sebagai tempat pengkajian koleksi sejarah dan rekreasi.
“Ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi sebuah museum. Memiliki tempat, pengurus, koleksi, dan story line koleksi tersebut. Museum universitas memenuhi syarat itu semua,” kata Kaprodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret Susanto dalam jumpa pers Museum Goes to Campus (MGtC), kemarin.
Solusi agar museum universitas tetap bisa melaksanakan kegiatan museumnya, meski anggaran terbatas, yakni dengan merger koleksinya dengan museum lain yang memiliki pengelolaan anggaran memadai.
Di Indonesia, lanjut Susanto, tercatat ada 438 museum yang dikelola oleh kementerian, pemerintah daerah (pemda), dan swasta. Tidak semua museum tersebut memiliki penganggaran cukup untuk melaksanakan kegiatan museum.
“Kegiatan MGtC ini untuk meng-endorse pemda, swasta, dan kementerian dalam memajukan kegiatan museum dengan memamerkan koleksinya di kalangan masyarakat, khususnya mahasiswa,” sambungnya.
Tahun ini, kali keempat MGtC digelar di UNS. Rencananya, akan diselenggarakan di auditorium kampus setempat, 29-31 Oktober mendatang.
Ketua MGtC ke-4, Insiwi Febriary Setyasih mengatakan, pihaknya mengajak Museum Lokabudaya Universitas Cenderawasih Papua sebagai peserta pameran. Ini sebagai perwujudan tema keberagaman sebagai dinamisator peradaban yang diusung pada MGtC kali ini.
“Supaya teman-teman Papua turut berpartisipasi di kegiatan ini. Mereka bisa memamerkan kebudayaannya di Kota Bengawan,” imbuhnya.
Insiwi menyebut MGtC akan diikuti oleh berbagai museum dan lembaga dari berbagai kota. Di antaranya Museum Pendidikan Indonesia Universitas Negeri Jogjakarta, Museum UNS, Museum/Lab Sejarah FIB UNS, Museum/Lab Sejarah FKIP UNS, dan Museum/Lab Sejarah FKIP Universitas Veteran Sukoharjo.
Kemudian Museum Keris Nusantara Solo, Museum Kambang Putih Tuban, Museum Bung Karno Blitar, Museum Penerangan Jakarta, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jakarta, Arsip dan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah, dan Confucius Institute.
“Sebagai salah satu rangkaian kegiatan pendukung, kami juga akan mengadakan workshop untuk para guru sejarah. Membahas tentang metode pembelajaran sejarah berbasis nilai-nilai kebhinekaan,” tandasnya. (radarsolo/jp)