250 Lembar Kain Karya Seniman Wianta Balut Pasar Badung
Bagikan

PUBLIKSATU, Bangunan Pasar Badung menjadi objek instalasi seni bagi para seniman dalam kegiatan bertajuk Art and Peace guna memperingati Hari Sumpah Pemuda, yang merupakan rangkaian Festival Pasar Rakyat Denpasar. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, sebanyak 250 lembar kain putih berisi ajakan atau tulisan perdamaian menggunakan bahasa dari seluruh dunia karya seniman Made Wianta “menyelimuti” sisi luar bangunan pasar, Senin (28/10).
Konseptor dan Director project Festival Pasar Rakyat Denpasar I Gede Made Surya Darma mengatakan, kain ini akan tetap dipasang hingga 10 November 2019 mendatang. Karya ini dibuat seniman Made Wianta pada 20 tahun lalu, dan pernah dibentangkan di Pantai Padanggalak bersama masyarakat dan siswa.
“Kain ini merupakan karya seniman Made Wianta, di dalamnya terdapat kata-kata perdamaian dari berbagai bahasa yang ada di dunia,” ujar Surya Darma.
Untuk pemasangan di Pasar Badung, melibatkan masyarakat pasar, TNI, dan komunitas seni. Pemasangan kain ini merupakan sebuah kampanye atau ajakan damai kepada masyarakat, namun dalam pemasangannya tetap memperhatikan artistik pasar.
Sementara itu, puncak pelaksanaan Festival Pasar Rakyat Denpasar menggunakan konsep Harmony In Diversity yang dilaksanakan oleh Komunitas Enam, terdiri dari seniman, hingga jurnalis. Festival yang digelar pada 9-10 Novermber 2019 ini berisi kegiatan seperti pameran lukisan, fotografi, dan lokakarya marketing digital bagi pedagang pasar.
Di samping itu juga ada penulisan aksara Bali, pembacaan Kakawin Sutasoma sebagai inspirasi kalimat Bhinneka Tunggal Ika. Kegiatan merespons bahan-bahan yang ada di pasar, bahkan melibatkan penyandang tunanetra untuk menyajikan seni geguntangan serta fashion show menggunakan plastik.
“Konsep ini tercetus oleh catus pata, di mana pembangunan Pasar Badung menggunakan konsep perempatan yang mana saat ini perempatan sudah dikuasai toko modern berjaringan,” katanya.
Menurutnya, konsep catus pata ini merupakan pengaruh dari jaman Majapahit dan telah berkembang di Bali sejak lama sehingga perlu diingatkan kembali. (baliexpress/jp)