Berita Terkini
Nasional

Hadang Truk Sampah Masuk, Warga Minta TPA Suwung Dipindah

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Selasa, 29 Oktober 2019 04:35 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Hadang Truk Sampah Masuk, Warga Minta TPA Suwung Dipindah

PUBLIKSATU, Kebakaran yang berkepanjangan di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sarbagita Suwung Denpasar berbuntut pada kegerahan warga terhadap pengelola dan pemerintah yang gagal menjadikan TPA Suwung sebagai tempat pengolahan sampah.

Berbagai program pemerintah yang dicanangkan selama ini, bagi warga di sekitar TPA, ternyata hanya janji pepesan kosong. Kelian Adat Desa Sanggaran I Wayan Widiada, mewakili kegundahan masyarakat, menerangkan, selama ini berbagai program pemerintah hanya janji belaka.

"TPA ini sudah ada sejak tahun 1985. Cukup lama kan? Tetapi tidak ada penanganan maksimal. Program hanya sebatas wacana, hanya janji. Karena terus janji, akhirnya jadi bencana. Membikin masyarakat mati," kata Widiada dengan kesal.

Menurut Widiada, amanah UU menegaskan bahwa TPA itu tempat pengolahan, bukan tempat pembuangan. "Kembali kepada amanah UU bahwa TPA adalah tempat pengolahan akhir, bukan tempat pembuangan akhir," bebernya.

Widiada menceritakan, berbagai program yang diuji coba di TPA Suwung selalu gagal dan terlihat pemerintah tak serius.Tahun 2005 diolah menjadi listrik, ternyata gaga. Tahun 2017 ada revitalisasi, ada pengelolaan PTLSA, ternyata hanya janji, tidak terealisasi. Kalau sudah kebakaran, ya… pasti mengganggu. Ini sudah terjadi berulang kali," bebernya.

Ia menambahkan bahwa volume sampah 1200-1300 ton per hari akibat pertambahan penduduk. “Namun rencana 10 hektare tempat pengolahan juga tidak terelalisasi," tandasnya.

Warga menuntut pemerintah serius merealisasikan TPA Suwung sebagai pengolahan sampah dan jangan hanya janji karena warga sudah muak dengan janji selama ini.

"Pemerintah harusnya serius merealisasikan janjinya. Kami sangat muak dengan janji palsu. Apalagi wacana yang membikin sebuah bencana yang secara rutin terjadi setiap tahun," tandasnya.

Kelian adat ini juga membeberkan alasan para pecalang menghadang puluhan truck yang masuk ke dalam TPA. "Gara-gara lahan 10 hektare tempat pengolahan tidak ada, akhirnya sekarang tidak ada tempat untuk menampung sampah lagi. Kalau ini dikasi masuk, mau taruh dimana. Karena pengolahan yang dijanjikan itu tinggal janji," jawabnya.

Jika pemerintah tidak mampu merealisasikan, warga meminta tempat pembuangan sampah dipindah dari TPA Suwung. "Kami yang kena dampak minta ketegasan pengelola, dalam hal ini pemprov, agar pengolahan itu direalisasikan. Untuk pembuangan dialihkan ke tempat lain, karena di sini tidak ada tempat.

Kalau pengolahan itu berhasil, baru akan bicarakan lagi," pungkasnya. (baliexpress/jp)

Bagikan