Menpora Tak Punya Solusi Soal Pencoretan 10 Cabor di PON 2020,

PUBLIKSATU, Polemik 10 cabor yang dihapus dari PON XX/2020 Papua belum juga menemui titik terang. Masih banyak KONI provinsi dan pengurus besar (PB) cabor yang memperjuangkan agar mereka tetap dipertandingkan. Termasuk KONI Jatim. Namun, tampaknya, upaya apa pun untuk mencari solusi tak akan menghasilkan apa-apa. Sebab, Kemenpora juga buntu.
Dalam kunjungan ke Surabaya kemarin, Menpora Zainudin Amali mengaku tak bisa berbuat banyak. Sejatinya dia sudah memberikan usul. Yakni, venue 10 cabor itu dipindah ke wilayah lain di luar Papua. ’’Tapi ternyata ada PP (peraturan pemerintah) yang menyebut pelaksanaan PON hanya boleh di satu provinsi. Itulah kesulitan kami,’’ jelas Zainudin kemarin.
-
Sepuluh cabor tersebut tidak bisa digelar karena infrastruktur di Papua tidak siap. Karena itu, Zainudin tidak mau gegabah. Dia memilih menghormati keputusan PB PON 2020. Yang akhirnya kukuh meniadakan 10 cabor tersebut. Yakni, balap sepeda, tenis meja, bridge, gateball, ski air, boling, dansa, petanque, woodball, dan soft tennis.
Meski begitu, Zainudin masih berharap ada jalan keluar. Sebab, dia tahu pengurus 10 cabor itu kecewa dengan pencoretan. ’’Untuk sementara, kami jalan saja dulu dengan apa yang ada. Kami juga sedang cari jalan keluar untuk itu,’’ ucap politikus partai Golkar tersebut.
Ketua Harian KONI Jatim M. Nabil menyebut betapa berbahayanya keputusan mencoret 10 cabor. Terutama dari segi pembinaan. Sebab, pihaknya baru boleh menggelar puslatda minimal dua tahun sebelum PON 2024. ’’Itu berarti baru tahun 2022 ada latihan. Pembinaan mandek tiga tahun,’’ ucapnya. (JP)