Para Veteran Akan Meladeni Letupan Tenaga Muda
Bagikan

PUBLIKSATU, Roger Federer datang di The O2 Arena, London, Inggris, dengan membawa misi besar. Berjuang untuk lolos dari fase grup Bjorn Borg di ATP Finals 2019. Laga perdana akan dijalani petenis veteran berusia 38 tahun tersebut menghadapi wakil Austria Dominic Thiem.
Federer merupakan petenis paling tua yang lolos ke ATP Finals tahun ini. Pengalaman panjang 21 tahun di tenis profesional turut menjadikan dia sebagai salah seorang pemain terbesar dalam sejarah. Rekor menang kalahnya juga meyakinkan, yakni 1.235-268.
Tetapi, memulai turnamen indoor menghadapi Thiem bukan perkara mudah. Terlebih rekor pertemuan keduanya tidak berpihak kepada Federer. Enam kali bertemu, sang veteran hanya mampu memenangi dua di antaranya. Pertama di ajang ATP Finals tahun lalu. Satu kemenangan lainnya diraih di semifinal Brisbane Internasional 2016.
Pada dua perjumpaan terakhir di ATP Tour 2019, hasil akhir menjadi milik Thiem. Yaitu di turnamen tanah liat ATP Masters 1.000 Madrid dan Indian Wells. Satu hal yang menjadi penyemangat Federer adalah rekornya di turnamen indoor yang sangat fenomenal. Yakni, 296 kali menang, 68 kalah, plus 26 gelar sudah dia dapat. Di ATP Finals, dia punya rekor menang-kalah 57-15. ’’Rasanya seperti pulang ke rumah (ketika main di indoor). Jadi, saya ingin menikmatinya ketika bermain di sini (London, Red),’’ katanya sebagaimana dikutip ATP Tour.
Terkait dengan misi meraih gelar, Federer mengungkapkan bahwa dirinya bukan satu-satunya petenis yang mengincar hal tersebut. Namun, bermain di turnamen indoor membawa dia ke nuansa nostalgia. Yakni ketika meraih kemenangan pertama di pentas tour di ajang Milan Indoor 2001. ’’Saya selalu merasa nyaman ketika bermain di lapangan indoor. Apa pun turnamennya,’’ lanjutnya.
Sementara itu, Novak Djokovic dan Matteo Berrettini akan membuka turnamen puncak ATP Tour tahun ini di O2 Arena London. Laga tersebut akan menjadi pertemuan perdana dua petenis beda generasi tersebut. Bagi Berrettini, ini adalah penampilan debutnya di ATP Finals.
Berrettini bisa menjadi kuda hitam di London. Musim 2019 merupakan tahun terbaiknya sejak memulai karir profesionalnya di ajang tenis dunia. Dia mendulang tiga gelar ATP Tour. Yaitu, di Arizona Tennis Classic, Hungaria Terbuka, dan Mercedes Cup di Jerman. Kesempatan kali ini menjadi fase penting buat Berrettini untuk menembus persaingan petenis-petenis tunggal putra dunia.
Berrettini sadar dirinya bukanlah favorit di grup Bjorn Borg. ’’Tetapi, aku sangat termotivasi untuk memberikan segalanya,’’ terang petenis Italia dikutip Express. Dia menjadi petenis Italia pertama yang tampil di ATP Finals sejak Corrado Barazzuti pada 1987.
Sedangkan bagi Djokovic, tampil maksimal sejak laga pertama di ATP Finals 2019 adalah keharusan. Dia sedang memburu target besar merebut kembali ranking pertama dunia dari tangan Rafael Nadal. Syaratnya bukan hanya harus menyapu bersih laga di fase grup, termasuk melawan Berrettini hari ini. Namun, dia juga harus melewati semifinal dan final. (JP)