Sambut Positif VR untuk Operasi Parkinson
Bagikan

PUBLIKSATU, Pengembangan teknologi virtual reality (VR) dalam penanganan operasi pasien parkinson di RSUD dr Soetomo terbukti mengurangi risiko. Meski baru dalam tahap uji coba, para pasien sudah merasakan manfaatnya. Optimisme pun diungkapkan Direktur Utama RSUD dr Soetomo dr Joni Wahyuhadi SpBS (K).
Sebagaimana diberitakan, aplikasi VR dinamakan BAMAG (brain, anatomy, morphology generated). RSUD dan ITS berusaha meng-create dan memperbaiki aplikasi VR yang ada di luar negeri. Bukan hanya CT scan dan magnetic resonance imaging (MRI), melainkan juga ada magnetic resonance angiography (MRA).
’’Karena kami harus tahu lokasi-lokasi di otak secara detail. Di dalam otak ada pembuluh darah. Jika terkena pembuluh darah, akan terjadi pendarahan,’’ jelas Joni.
Jadi, tiga komponen tersebut (CT scan, MRI, dan MRA) dijadikan satu untuk mengetahui lokasi persis lesi di otak dan memastikannya aman. Sebab, dokter akan memasukkan alat untuk melakukan lesioanektomi. ’’Memasukkan alat ke bagian otak yang menghasilkan sesuatu penyebab tremor,’’ ujarnya.
Joni menuturkan, teknologi canggih tersebut memiliki prospek bagus. Jika secara statistik seluruh pasien yang diuji coba tidak ada komplikasi dan dapat diterima dengan baik, RSUD akan meluncurkannya secara resmi. ’’Targetnya sebelum akhir tahun aplikasi ini bisa dimanfaatkan masyarakat,’’ paparnya.
Misalnya, untuk menangani pasien kejang dan kelainan psikiatri. Sebab, gangguan jiwa mengarah ke organ otak. Ada kelainan di otak yang membuat gangguan jiwa. Jadi, petugas bisa melakukan tindakan manipulasi dengan stereotaktik. ’’Ini kemajuan. Saya dan tim bedah saraf akan mudah bekerja,’’ ujarnya.
Ketua Tim Pengembangan Aplikasi BAMAG RSUD dr Soetomo Prof Riyanarto Sarno menuturkan, dalam pengaplikasiannya kepada pasien parkinson, hasilnya pun memuaskan. Akurasinya hampir mencapai 100 persen atau risiko error hanya 0,1 persen.
Pengembangan ke depan, lanjut dia, aplikasi tersebut bisa berupa tiga dimensi. Jadi, tidak lagi VR, tetapi mixed reality. Yakni, penggabungan antara VR dan artificial intelligence (AI). ’’Jadi mendekati realitas. Real data dalam otak pasien. Sekarang kami juga sudah mixed reality,’’ paparnya.
Sementara itu, dua di antara 15 pasien yang menjalani operasi parkinson dengan memanfaatkan aplikasi BAMAG adalah Suprayitno dan Adi Kurniawan. Keduanya menjalani operasi pada Kamis (14/11). Hasilnya pun langsung terlihat bagus. Tremor di dua tangan pasien tersebut sudah membaik. (JP)
Cepat dan Tepat Manfaatkan BAMAG
RSUD dr Soetomo memanfaatkan aplikasi BAMAG (Brain, Anatomy, Morphology Generated) untuk menangani pasien parkinson. Berbagai kelebihan mengiringi penerapan aplikasi yang masih dalam uji coba tersebut. Berikut serba-serbi BAMAG:
1. Aplikasi yang menggabungkan teknologi virtual reality (VR) dan artificial intellegence (AI).
2. Terdapat tiga komponen. Antara lain, CT-scan, magnetic resonance imaging (MRI), dan magnetic resonance angeography (MRA).
3. Digunakan untuk membantu dokter merencanakan tindakan operasi pasien parkinson.
4. Dapat melihat lebih detail posisi-posisi kelainan pada otak hingga letak pembuluh darah (arteri).
5. Perencanaan operasi oleh dokter lebih cepat dan tepat. Yakni, dari yang sebelumnya lebih dari 5 menit kini hanya 2 menit.
6. Operasi hanya membutuhkan waktu 15 menit.
7. Ke depan, BAMAG terus dikembangkan untuk kasus saraf dan otak. Bahkan, untuk kasus kejang dan kelainan psikiatri.