Berita Terkini
Nasional

DKI Butuh 128 Tahun untuk Kejar Ketertinggalan Pendidikan Negara Maju

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Senin, 18 November 2019 20:28 WIB · 2 menit baca
DKI Butuh 128 Tahun untuk Kejar Ketertinggalan Pendidikan Negara Maju
CEO Ruang Guru Adamas Belva Syah Delvara dalam Seminar Wisuda di kampus Universitas Terbuka (UT) Tangerang Selatan

PUBLIKSATU, CEO Ruang Guru Adamas Belva Syah Delvara menjadi pembicara dalam seminar wisuda di Universitas Terbuka (UT) Tangerang Selatan, Banten, Senin (18/11). Dia memaparkan soal ketertinggalan pendidikan di Indonesia. Menurut dia, untuk mengatasinya butuh revolusi pendidikan yang memanfaatkan teknologi.

Dalam membawakan materinya, Delvara menyinggung soal ketertinggalan pendidikan di DKI Jakarta. Menurutnya, kondisi ini harus ditangani. Sebab DKI Jakarta adalah barometer Indonesia. Ini karena Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia.

’’Anak-anak di Jakarta butuh waktu 128 tahun untuk mengejar ketertinggalan dari anak-anak di negara maju,’’ katanya. Data tersebut dia kutip dari salah satu guru besar di Harvard University. Dia menjelaskan untuk mengejar ketertinggalan tersebut perlu menggunakan teknologi. Sebab melalui teknologi, bisa diupayakan percepatan peningkatan sekaligus pemerataan pendidikan.

Dia menjelaskan upaya mengejar ketertinggalan itu tidak bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional. Apalagi Indonesia begitu luas. Dia mengungkapkan saat ini jumlah siswa di Indonesia mencapai 56 juta anak. Kemudian jumlah guru tercatat ada empat juta orang. Lalu jumlah sekolahnya ada 300 ribu unit.

Delvara lantas mengungkapkan Universitas Terbuka maupun Ruang Guru sama-sama memberikan layanan pendidikan berbasis teknologi. Hanya saja dia menekankan pembelajaran di Ruang Guru sifatnya komplementer. ’’Kami tidak mengeluarkan ijazah,’’ jelasnya.

Dia mengatakan saat ini ada sekitar 15 juta siswa menggunakan aplikasi Ruang Guru. Mereka menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligent) dalam membantu belajar siswa. Sehingga siswa bisa mengalami pembelajaran yang menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing atau personalize learning.

’’Misalnya video pembelajaran apa yang cocok, disesuaikan dengan pembelajaran sebelumnya,’’ jelasnya. Dengan cara tersebut, diharapkan siswa lebih maksimal dalam belajar. Selain itu pembuatan soal latihan diproduksi oleh guru-guru berkualitas.

Rektor Universitas Terbuka (UT) Ojat Darojat mengatakan, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan itu penting. Baginya teknologi itu sebagai alat. Supaya pendidikan bisa diterima peserta didik dimanapun dan kapanpun. Namun dia menegakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membangun manusia seutuhnya.

’’Pendidikan tidak boleh melupakan karakter bangsa,’’ katanya. Misalnya karakter jiwa Pancasila, ketuhanan, dan lainnya. Untuk itu meskipun pendidikan dihadirkan dengan teknologi, nilai-nilai tersebut harus tetap ada. (JP)