Uji Nyali Melewati Jembatan Bungpis, Kayu Rapuh dan Besi Berkarat
Bagikan

PUBLIKSATU, Gladak. Gladak. Gladak. Bunyi terdengar dari jembatan bungpis yang menghubungkan Desa Gerdu dan Dukuh Doropayung, Desa Kaliombo, Pecangaan, saat dilintasi kendaraan. Sebagian balok kayu sebagai lintasan jembatan tak lagi utuh. Rapuh dan berlubang. Sedangkan besi konstruksinya berkarat.
Beberapa hari yang lalu, ada pengendara yang jatuh. Tertimpa motor. Kendaraan itu tersangkut di lubang jembatan. Kemudian oleh warga sekitar kayu yang tidak layak dibuang. Diganti batang pohon oleh warga. “Kalau ada lubang warga sini sukarela ganti. Misal ada yang punya pohon dikebun tapi tidak terpakai ya dibuat menutup lubang jembatan,” jelas salah satu warga sekitar jembatan itu Shodiqun.
Kayu-kayu lintasan jembatan itu awalnya dilapisi aspal. Namun sudah mengelupas. Sebagian kayu yang tak lagi utuh diganti warga menggunakan batang kayu. Tak jarang ketika pengendara melewati jembatan sering tergelincir. Karena kayu konstruksi jembatan berbentuk balok. Sedangkan inisatif warga berupa batang kayu utuh.
-
TAK LAYAK: Warga melintas di jembatan Bungpis turun dari sepeda. Lantaran dasaran jembatan tak rata. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)
Hal ini lebih baik ketika sebelum diperbaiki warga. Pasalnya banyak pengendara yang terjatuh tak bisa menghindari jembatan yang berlubang. Belum lagi saat berpapasan dengan pengendara lain yang berlawanan arah. Salah satu harus mengalah berhenti.
Kondisi jembatan yang tak layak semakin terasa ketika kendaraan roda empat melintas. Dari arah Desa Gerdu misalnya. Ketika mulai melewati jembatan. Besi-besi ikut bergetar. Padahal sebagian besar besi sudah berkarat.
Salah satu warga sekitar, Sodiqin, 30, mengungkapkan kekhawatirannya ketika jembatan tersebut mengalami kerusakan yang semakin fatal. Jika ada pengendara yang lewat saat kerusakan terjadi, nyawa taruhannya. “Kalau mobil lewat jembatan itu bergoyang. Kalau dibiarkan kan bahaya,” katanya.
Meski kondisinya berbahaya, setiap harinya jembatan tersebut masih digunakan masyarakat sebagai jalur transportasi baik menggunakan kendaraan bermotor maupun berjalan kaki. Ada jalan lain. Namun harus memutar sekitar tiga kilometer.
Tak semua pengguna jalan memiliki nyali untuk melewatinya. Ada juga pengendara yang memilih menuntun kendaraannya. Bagi yang berboncengan, pembonceng memilih turun dan berjalan kaki saat melewati jembatan.
Salah satu pengendara, Erna, 34, mengaku baru pertama kali melewati jembatan itu. Sebenarnya ia tidak berani. Namun karena terpaksa, ia memberanikan diri. “Saya heran, warga di sini kok berani ya. Semoga bisa diperbaiki supaya aksesnya lebih mudah. Kasihan masyarakat sekitar,” tuturnya.
Sebelumnya nasib jembatan bungpis sempat berhembus kabar bakal diperbaiki. Hal ini menyusul kunjungan beberapa pejabat daerah hingga pihak Balai Besar Wilayah Sungai Pemali – Juana tahun lalu. Namun hingga kini belum ada kejelasan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Jepara Ary Bachtiar menjelaskan, pihaknya telah konsultasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pekan ini baru ada jawaban terkait kewenangan pembangunan jembatan. Dijelaskan, pembangunan jembatan yang menjadi kewenangan pusat adalah yang melewati jalan nasional.
“Kalau jembatan bungpis tidak bisa ditanggung oleh pemerintah pusat sepenuhnya. Karena tidak dilewati jalan nasional,” katanya.
Ary melanjutkan, jika ada bantuan pembangunan jembatan dari anggaran pusat, sifatnya sharing dana. Misalnya pusat membantu bangunan bagian bawah. Sedangkan daerah menanggung bangunan bagian atas. Atau sebaliknya.
“Setelah kami konsultasi langsung ke kementerian, hampir tidak pernah ada bantuan pembangunan jembatan yang di luar jalan nasional. Sepenuhnya dibiayai pusat tidak ada. Jawaban ini baru kami dapatkan pekan ini. Baru bisa menentukan sikap nanti ke depan seperti apa,” tuturnya.
Dengan begitu, pihaknya memastikan skema sharing pembiayaan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Karena APBD, bantuan provinisi, dan dana alokasi khusus dari pusat belum dianggarkan di tahun 2020 untuk program pembangunan jembatan bungpis.
“Dalam waktu dekat, kami akan bersurat kepada Menteri PUPR. Terkait dengan progres usulan pembangunan jembatan bungpis,” paparnya.
Hingga saat ini, sudah dilakukan survei lapangan oleh satker perencanaan dan pengawasan jalan nasional (P2JN) Kementerian PUPR. Hasilnya, jika panjang jembatan 142 meter dan lebar enam meter, estimasi biaya yang diperlukan Rp 35 miliar.
“Kabupaten Jepara siap memenuhi beberapa persyaratan yang diminta. Yaitu melebarkan jembatan menuju jembatan bungpis dan pembebasan lahan di sekitar jembatan,” imbuhnya.
Tahun lalu, pihaknya telah membuat pegangan jembatan darurat. Pasalnya pegangan jembatan sudah rusak. Sebagian balok kayu juga telah diganti. Namun perbaikan itu hanya bersifat sementara. (radarkudus/jp)