Berita Terkini
Nasional

Produksi Garam di Kab Probolinggo Belum Capai Target, Harga Pun Murah Rp 400 Perkilogram

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Sabtu, 23 November 2019 20:28 WIB · 2 menit baca
Produksi Garam di Kab Probolinggo Belum Capai Target, Harga Pun Murah Rp 400 Perkilogram

PUBLIKSATU, Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo mengklaim produksi garam di daerahnya hingga bulan Oktober telah mencapai 19 ribu ton. Jumlah tersebut masih belum mencapai target karena tahun ini dipatok angka 22 ribu ton.

Walau belum mencapai target, dinas optimistis di sisa bulan tahun 2019, target bisa terpenuhi. Hal itu diungkap Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo Hari Pur Sulistiono. Menurutnya, produksi garam di daerahnya cukup baik. Hingga akhir Oktober lalu produksinya mencapai 19.211 ton atau 87 persen dari target 2019. “Tinggal 13 persen lagi sudah bisa memenuhi target,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Ipung itu mengatakan, pihaknya yakin bahwa target akan dipenuhi. Sebab, per bulannya petani garam bisa memproduksi sekitar 3 ribu ton. Itu, terbukti pada Oktober lalu, produksi bisa mencapai 3.100 ton. “Dengan cuaca yang seperti sekarang, produksi bulan November diperkirakan tidak beda jauh dengan Oktober,” tandasnya.

Meskipun begitu, ada yang menjadi ganjalan bagi dinas. Penyebabnya adalah persoalan harga garam yang murah. Harga garam per kilogram hanya sekitar Rp 400. “Harga saat ini rendah, berkisar Rp 400 kilogram. Ini, karena gudang pedagang sudah penuh. Kalaupun dibeli akan dititipkan di gudangnya petani,” tuturnya.

Ipung menjelaskan, harga garam Probolinggo dibanding daerah lain masih lebih baik. Di kabupaten tetangga seperti Pasuruan hampir sama. Yaitu Rp 300 – Rp 400 per kilogram, Tuban Rp 250 kilogram. “Tetapi, kami masih melakukan upaya untuk menaikkan harganya,” jelasnya.

Salah satu upayanya yaitu, pihak dinas giat melakukan sosialisasi. Tujuannya, untuk penguatan kelembagaan. Sehingga, bisa meningkatkan kesejahteraan para petani. Namun, untuk kondisi harga saat ini ia menjelaskan penyebabnya karena mekanisme pasar.

“Harga berlaku mekanisme pasar, saat ini musim panen raya. Ke depan kami ajukan ke pusat untuk pembangunan gudang garam nasional. Saat ini kami bekerja sama dengan Dinas Koperasi untuk penguatan koperasi garam rakyat,” tandasnya. (JP)