Nih Dia, Pembatik yang Juga Instruktur BLK Kab Pasuruan

PUBLIKSATU,Minimnya peserta lomba batik di Kabupaten Pasuruan pada 2013, membuat Hj. Nurita Iza Rosdiany prihatin. Ia pun bertekad belajar membatik agar kerajinan batik di Kabupaten Pasuruan menggeliat. Kini, dia adalah salah satu pembatik di Kabupaten Pasuruan. Juga instruktur batik di BLK Pandaan dan Pasuruan.
IWAN ANDRIK, Beji, Radar Bromo
Tangan terampil perempuan berhijab itu menari-nari di atas kain. Sesekali, ia mengambil pewarna yang tertampung di sebuah wadah dengan menggunakan canting. Selanjutnya, ia meniup canting yang dipegangnya dengan tangan kanannya. Sebelum akhirnya ia melukiskan ujung canting ke kain putih yang dipegang menggunakan tangan kirinya.
Aktivitas itu, tidak hanya sekali dilakukan. Melainkan, dilakukan beberapa kali. Hingga kain yang semula putih, berubah menjadi goresan-goresan penuh warna nan indah.
Begitulah aktivitas yang dilakukan Hj Nurita Iza Rosdiany. Hampir setiap hari, ia bergelut dengan batik. Bukan hanya sebagai perajin. Tetapi, juga pengajar atau pemateri membatik di BLK Pandaan dan Pasuruan.
Kiprah Nurita -sapaan Nurita Iza Rosdiany- dalam hal membatik dimulai sejak 2013. Saat itu ia prihatin dengan minimnya jumlah pembatik di wilayah Kabupaten Pasuruan. Itu, terlihat dari sedikitnya peserta lomba batik yang digelar Pemkab Pasuruan.
Ketika itu, hanya ada tiga peserta yang berpartisipasi. “Minimnya peserta ini, membuat hati saya tergerak untuk belajar membatik. Kebetulan, saya memang ingin mencari kesibukan lain selain menjadi ibu rumah tangga,” terangnya.
Ibu dua anak itu pun mulai belajar membatik. Bak gayung bersambut, keinginannya belajar membatik terwujud. Saat itu, ada program pembelajaran membatik dari perusahaan kimia di wilayah Beji. Ia pun kepincut untuk menjadi peserta.
Beberapa kali pertemuan, ia mulai memahami cara membatik. Meski tidak sepenuhnya. Karena dalam membatik, banyak hal yang harus dipelajari.
“Waktu itu, saya belajar cara mencanting. Jadi, belum tahap-tahap lain, seperti pewarnaan,” kenang perempuan kelahiran 13 Januari 1967 ini.
Meski hasilnya tak sempurna, ternyata kreasinya itu cukup diminati orang. Buktinya, ada yang mau membeli karyanya. Ketika itu, karyanya dibeli karyawan perusahaan tempatnya belajar, seharga Rp 200 ribu.
Motivasinya membatik semakin membumbung tinggi. Ia berlatih keras untuk lebih mahir membatik. Agar lebih terorganisasi, ia membentuk kelompok batik bersama rekan-rekannya yang merupakan peserta pembelajaran batik.
“Tapi, lambat laun banyak anggota yang mundur. Karena kerajinan batik, tidak semudah berdagang roti atau peracangan yang cepat mendapatkan hasil,” akunya.
Meski begitu, ia bergeming. Bahkan, ia semakin semangat untuk melestarikan budaya batik. Ia lantas membentuk usaha batik sendiri yang dinamainya Nurita Batik.
Semula, ia hanya sendirian. Tapi, lambat laun, ia akhirnya merekrut karyawan. Setidaknya, ada lima orang yang direkrutnya menjadi karyawan.
Ia pun terus menginovasi keterampilannya. Tidak hanya menuangkan kerajinan batik tulisnya dalam kain untuk pakaian. Melainkan untuk benda-benda lain. Seperti tas, sepatu, bahkan hiasan dinding.
Setiap bulan, pesanan batiknya berdatangan. Paling tidak, ada sekitar 20 pesanan batik datang setiap bulannya. Tentu ia tidak sendirian mengerjakan. Tetapi bersama karyawan dan mitra yang pernah “bersekolah” batik dengannya.
Pasar batik tulis kreasi Nurita, dihargai Rp 125 ribu hingga Rp 1 juta. Tergantung ukuran maupun motif batik yang dipesan. Pasar yang dirambah, tidak hanya lokal Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga merambah Surabaya, Malang, bahkan Jakarta.
Istri dari dr Samsul Huda ini tidak hanya fokus untuk membatik. Ia menularkan kemampuannya ke ibu-ibu yang lain. Khususnya, ibu-ibu rumah tangga yang ingin meningkatkan ekonomi keluarganya.
Bentuknya dengan pelatihan batik kepada ibu-ibu PKK. Seperti yang dilakukannya kepada ibu-ibu PKK di wilayah Gununggangsir, Kecamatan Beji. “Ada belasan ibu-ibu PKK yang mendapat pelatihan dari saya,” sambungnya.
Perempuan yang berdomisili di Gondanglegi, Desa Cangkringmalang, Kecamatan Beji, ini menambahkan, bukan hanya ibu-ibu PKK yang biasanya diajarinya. Ia juga menjadi instruktur kerajinan batik di sekolah-sekolah, bahkan Balai Latihan Kerja (BLK) di Pandaan ataupun Pasuruan. Menjadi instruktur tersebut, dilakoninya sejak 2017.
Semula, ia belajar menjahit di BLK Pandaan. Namun, ternyata ada yang mengetahui kemampuannya membatik. “Sejak itulah, saya diajak untuk mengajar membatik,” tandas perempuan yang aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan itu.
Nurita yang awalnya sempat kesulitan saat membatik, akhirnya merasa senang dengan dunianya. Terlebih ketika melihat anak didiknya berhasil membuat batik yang mampu dipasarkan. Ada kepuasan tersendiri dalam batinnya.
“Rasanya senang dan ada kepuasan tersendiri, ketika melihat pembatik-pembatik bermunculan. Terlebih jika mereka itu adalah didikan kita,” akunya. (jp)