Berita Terkini
Nasional

Penderita Dikumpulkan, kemudian Otaknya Di-Reset

Oleh Redaksi Publiksatu / Kasim · Rabu, 18 Desember 2019 20:59 WIB · 3 menit baca
Penderita Dikumpulkan, kemudian Otaknya Di-Reset
Samsul Huda bersama ODGJ memperlihatkan hasil kreasi pernak-pernik hiasan di sebuah acara pameran saat Hari Kesehatan di Kabupaten Rembang beberapa waktu lalu.

Dokter Samsul Huda berhasil membebaskan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dari pasung. Dia gunakan cara hipnoterapi atau mereset otak. Setelah itu ia melatih ODGJ dengan beragam kerajinan. Dari kerajinan itu, mereka miliki penghasilan pemasukan uang.

WISNU AJI, Rembang, Radar Kudus

KAWASAN Alun-alun Rembang tampak ramai di perayaan Hari Kesehatan Nasional (HKN) belum lama ini. Di lokasi itu beragam bazar kesehatan dipamerkan. Pesertanya mulai dari rumah sakit hingga puskesmas.

Dari sekian peserta ada pemandangan beda di stand Puskesmas Pancur. Di stand itu terdapat ODGJ. Hebatnya teman dekat (sebutan ODGJ, Red) juga yang mengisi produk di stan itu. Mulai bros, batik, kemoceng, dan jahitan baju.

Di stan itu pula ODJG mempraktikkan kepiawaiannya dalam membuat beragam produk. Penampilan mereka berhasil menarik perhatian pengunjung. Pengunjung yang penasaran tidak bakal diganggu. Karena mereka sudah di-reset otaknya. Supaya otaknya tidak kosong yang membuat saling curiga maupun pikiran macam-macam.

Ada dua orang ODJG yang hadir di stan itu. Mahmudah, warga Sidowayah dan Sri Mulyasih, warga Kalitengah. Sudah setahun ini keduanya diajari membuat kerajinan. Dari kerajinan itu keduanya berhasil memeroleh pemasukan uang.

”Kami sengaja tampil beda (menghadirkan ODGJ, Red). Menunjukkan karya Teman Dekat lewat kreasi. Sebelum ikut di stan, kami lakukan hipnoterapi atau reset otak mereka. Lalu menekan titik syarafnya,” kata Pembina ODGJ Samsul Huda.

Dengan ramah, Samsul mendampingi koran ini. Dia cerita panjang lebar. Termasuk awal pembinaan ini digencarkan. Tepatnya mulai 23 April 2019. Saat itu pesertanya ada 32 ODGJ.

Ide ini tercetus melihat keprihatinan kasus di wilayahnya. Tidak hanya ODGJ, tetapi fakta di lapangan ada yang dipasung. Namun setelah program ini dioptimalkan sejak 30 September 2019, Pancur bebas pasung ODGJ.

”Kami ingin Pancur bebas pasung. Makanya ODGJ kami rawat dan terapi. Termasuk diberikan pelatihan. Sehingga ada penghasilan sendiri,” terang sosok yang bertempat tinggal di Desa/Kecamatan Pamotan, Rembang.

Terkait keterampilannya, para ODGJ diberi keleluasaan. Seperti laki-laki diajari pijat. Sehingga saat malam bisa lakukan aktivitas pijat. Tujuannya agar pikiranya tidak kosong. Karena kalau hal ini terjadi, pikiranya kambuh. Makanya harus ada perlakuan khusus.

Kiatnya membina ODGJ melakukan pendekatan pelan-pelan. Lalu dikumpulkan bersama-sama. Lalu otaknya di-reset ulang. Caranya menggunakan hipnoterapi. Selain itu diberi beberapa obat kepada ODGJ.

”Di Pancur ada 63 ODGJ. Dari total itu, yang dipasung sebelumnya enam orang. Sekarang tidak ada lagi yang dipasung,” yakinnya.

Para ODGJ kini lebih dapat diberdayakan. Karena mendapatkan pelatihan UMKM. Salah satunya diajari membuat batik. Pelatihan dilakukan profesional. Salah satu penyumbang kegiatan para ODGJ dari CSR BUMN. Salah satunya PLTU Rembang.

Beberapa karya kerajinan seperti kreasi bros dihasilkan apik. Bahkan sudah terjual. Mulai dibanderol harga Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu. Uangnya biasanya dikumpulkan dalam satu kelompok.

”Alhamdulilah beberapa waktu lalu kami diundang Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kami dapat inovasi terbaik di Jateng. Satu-satunya yang ngopeni ODGJ,” bangganya.

Meskipun, diakuinya, semua kegiatan bersama ODGJ tidak mudah. Buktinya tidak semua dapat diajak. Baru sekitar 32 ODGJ yang berhasil diberdayakan. Sisanya masih belum stabil. Namun setiap bulan targetnya empat sampai lima orang bisa tuntas. Meskipun tidak dapat sembuh total. (radarkudus/jp)