Berita Terkini
Baubau

Warga Waruruma Tolak Keras SUTET

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Senin, 6 Januari 2020 15:51 WIB · 3 menit baca
Bagikan
Warga Waruruma Tolak Keras SUTET
Warga Perumnas Waruruma sedang berdialog dengan kontraktor proyek jaringan SUTET di garasi mobil rumah warga

PUBLIKSATU, BAUBAU--Warga Kompleks Perumnas Waruruma, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau menolak keras pembangunan jaringan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET), jaringan listrik Sultra Package Raha-Baubau dengan lokasi TIP. 263 Waruruma, karena terlalu dekat dengan pemukiman mereka. Sebagai bentuk keseriusannya, Jumat 3 Januari 2020 mereka menghentikan alat berat yang sedang menggali lubang pondasi cakar ayam, hari Minggu kemarin, mereka memasang spanduk penolakan di jalan menuju proyek tersebut

"Kami tidak menolak pembangunan jaringan SUTET di Kota Baubau, karena itu kebutuhan masyarakat banyak, yang ditolak pembangunan yang terlalu berdekatan dengan rumah warga kompleks perumahan ini," kata Suharjoni, salah seorang pentolan perjuangan penolakan SUTET.

Selain itu, warga juga mengirim surat yang ditujukan kepada pimpinan PT PLN UPP Kitring Sultra di Kendari. Surat tersebut di tembuskan juga ke Gubernur Sultra, Wali Kota Baubau, Kapolres Baubau, Dandim Buton, Kepala Bapedalda Kota Baubau, Kepala Perizinan Kota Baubau, Camat Kokalukuna, dan Lurah Waruruma.

Dalam surat tersebut dijelaskan juga empat poin alasan menolak pembangunan jaringan SUTET.

Pertama, mengganggu kenyamanan hidup masyarakat sekitar. Kedua, mengakibatkan dampak dan resiko keamanan hidup masyarakat sekitar. Ketiga, mengakibatkan dampak radiasi yang menggangu kesehatan bagi manusia yang hidup di area jaringan. Keempat, mengakibatkan turunnya nilai investasi ekonomi properti warga di lokasi tersebut.

Sampai sore kemarin sudah puluhan warga yang datang menandatangi surat tersebut, di antaranya, Suharjoni, Dewi Sartika, Masrudi, Syamsuddin, La Ode Muhamad Ilham, Syarif, Samusu, Isra, Irma, Vivin Dirviani, Riani Zahra, Ramli.

Proses lahirnya surat penolakan ini juga melalui perjalanan panjang, bermula sejak proyek itu dikerja 28 Desember 2019 beberapa warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan proyek itu merasa tidak nyaman. Pasalnya, posisi rumah mereka berada di bawah dan proyek berada di atas dengan jarak kurang dari 10 meter.

Karena itu, beberapa emak militan berinisiatif mendatangi pekerja. Mereka bertanya, proyek apa yang dikerja, kenapa terlalu dekat dengan tebing yang di bawahnya ada rumah mereka. Pihak pekerja mengaku sedang membangun jaringan SUTET dan lokasinya sudah melalui pengkajian, survei dan seminar. Mereka pulang menceritakan pada warga.

Hari Minggu 29 Desember 2019 giliran bapak-bapak yang naik melihat lokasi tersebut, hasil pengamatannya menurut Suharjoni disimpulkan bukan tempat yang tepat untuk jaringan SUTET, terlalu dekat dengan pemukiman warga.

Setelah melalui pengkajian dan mempelajari berbagai literatur, maka Jumat 3 Januari 2020 Suharjoni vs meminta pekerja menghentikan pekerjaannya, sorenya kontraktor datang untuk melakukan dialog dengan warga. Hasilnya tidak tercapai kata sepakat, warga dengan tegas menolak pembangunan di tempat itu karena terlalu dekat dengan pemukiman warga. Mereka minta lokasinya pindah ke belakang sejauh mungkin. Karena itu, warga memutuskan bersurat ke PLN. "Di sanalah yang akan mengambil keputusan," kata Suharjoni. (***)

Bagikan