Biaya Rapid Tes jadi Beban Klub Bila Kompetisi Dilanjutkan

PUBLIKSATU, BOLA – Biaya rapid tes disebut-sebut menjadi beban bagi klub saat kompetisi Liga 1 2020 digelar kembali. Arema FC misalnya.
Meski tim berjuluk Singo Edan ini bersedia menyanggupi apabila nanti PSSI dan PT LIB menyusun protokol kesehatan baru. Bahkan, Arema FC juga menerapkan protokol kesehatan, mulai mes pemain hingga program latihan yang akan dipilih.
Namun, ada satu hal yang membuat manajemen Arema FC sedikit keberatan. Yakni, soal mahalnya biaya rapid test. Sebab, ada wacana setiap menjelang pertandingan akan dilakukan rapid test. Pihak Arema khawatir dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk tes tersebut.
General Manager Arema FC Rudi Widodo menyatakan, dengan biaya rapid test Rp 300 ribu per orang, total biayanya Rp 30 juta setiap kali tes. Setiap pertandingan paling tidak melibatkan 100 orang, yakni pemain dan ofisial tim tuan rumah maupun tamu, wasit, dan panitia.
”Kami siap apabila memang nanti ada tes kesehatan. Tetapi, jujur biaya rapid test lumayan berat,” kata Rudi.
Memang PSSI akan menambah jatah hak siar dari Rp 520 juta setiap bulan menjadi Rp 800 juta. Namun, itu dirasa kurang bagi Singo Edan. ”Kan percuma kalau masih ada biaya lain seperti ini. Meski hak komersial naik dan ada penurunan kontrak pemain serta pelatih, tetap percuma saja,” ujar pria asli Madiun tersebut.
Arema mengusulkan PSSI menggandeng laboratorium atau apa pun itu yang bisa membantu dalam bidang medis. ”Kompensasinya bisa berupa sponsor. Itu bisa sedikit meringankan beban klub,” ucap Rudi. (jawapos)