Berita Terkini
Olahraga

Sanksi Kalteng Putra karena Tak Bayar Gaji, Tunggu Format Liga 2

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 10 Juni 2020 15:14 WIB · 2 menit baca
Sanksi Kalteng Putra karena Tak Bayar Gaji, Tunggu Format Liga 2

PUBLIKSATU, BOLA – Kalteng Putra diberi waktu 45 hari untuk melakukan banding atas sanksi yang diberikan NDRC pada 27 April lalu. Sanksi berupa tidak boleh melakukan pendaftaran pemain dalam tiga periode atas kesalahan tidak membayar tunggakan pemain pada musim 2019 lalu. Karena tidak ada banding, hukuman untuk Laskar Isen Mulang pun harus dijalankan.

Hal itu dikatakan Sekjen Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) M. Hardika Aji kepada Jawa Pos kemarin (8/6). Namun, hukuman tersebut tidak bisa langsung dijalankan. Alasannya, kompetisi Liga 2 musim ini belum jelas akan dilanjutkan atau tidak. ’’Membayangkan Liga 2 sedikit rumit karena akan mengganti format juga,’’ ujarnya.

Ya, jika dijalankan, APPI tidak tahu apakah nanti ada bursa transfer pertengahan musim atau tidak di Liga 2 yang masih akan digodok untuk dilanjutkan oleh PSSI. Jika tidak ada, otomatis hukuman untuk Kalteng Putra sulit diterapkan. ’’Kalau Liga 1 kan tinggal menjalankan sisa kompetisi. Dihukumnya saat ada periode transfer,’’ terangnya.

Hukuman untuk Kalteng Putra turun ketika kickoff Liga 2 sudah ditiupkan. Itu berarti bakal berlaku pada pertengahan musim jendela transfer. ’’Ini mesti dijaga karena Liga 2 formatnya ganti total. Kecuali PSPS ya yang juga sama dihukumnya tapi ada putusan sebelum liga berjalan,’’ jelasnya.

Sebagaimana diketahui, Kalteng Putra terkena hukuman akibat laporan dari 26 pemainnya musim lalu. Saat itu, Laskar Isen Mulang masih berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, yaitu Liga 1. Sebelum akhirnya terdegradasi di musim yang sama.

Tunggakan Kalteng Putra mencapai Rp 1,9 miliar. Itu tercatat sebagai utang terhadap 26 pemain senior dan sisanya Elite Pro Academy beserta staf pelatih.

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sempat tidak mengeluarkan rekomendasi Liga 2 gara-gara alasan itu juga. Bahkan, mandeknya kompetisi akibat pandemi korona diharap bisa dimanfaatkan untuk bayar utang. Faktanya, justru kasus tunggakan gaji sudah sampai NDRC dan hampir diputuskan.