Berita Terkini
Internasional

Warga Tiongkok Punya Cara Sendiri Luapkan Kebahagiaan dengan Berkurangnya Covid-19

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Minggu, 14 Juni 2020 05:42 WIB · 2 menit baca
Warga Tiongkok Punya Cara Sendiri Luapkan Kebahagiaan dengan Berkurangnya Covid-19
This photo taken on June 10, 2020 shows a vendor attracting customers at an outdoor market in Wuhan in China's central Hubei province. - Snacks, underwear, jewellery and even bunnies -- hard-hit Chinese are selling their wares on the street after the nati

PUBLIKSATU – Covid-19 pergi, saatnya memanjakan diri. Salah satunya dengan berbelanja. Bukan kebutuhan harian tentu saja, melainkan barang-barang mewah. Misalnya, perhiasan dan berbagai barang branded yang diakui dunia. Tren itulah yang kini sedang terjadi di Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel).

Pandemi di dua negara tersebut memang sudah mereda. Karantina di berbagai wilayah di Tiongkok sudah dicabut. Korsel yang tidak menerapkan lockdown juga sudah melonggarkan kebijakan-kebijakannya terkait Covid-19. Intinya, penduduk dua negara tersebut kini lebih bebas berkeliaran di luar seperti dulu meski tetap harus bermasker.

Setelah terkurung begitu lama di dalam rumah, belanja barang mewah seperti luapan euforia karena bebas ke mana saja. Misalnya, yang terjadi di butik Louis Vuitton di Seoul, Korsel. Warga rela antre hingga mengular ketika kebijakan dilonggarkan Mei lalu. Hal serupa terjadi lebih dulu di Tiongkok.

’’Data menunjukkan bahwa Tiongkok sedang dalam mode pemulihan,’’ ujar Luca Solca, seorang analis di Bernstein, seperti dikutip CNN.

Beberapa merek kenamaan mengakui adanya lonjakan penjualan. Produsen perhiasan mewah asal Amerika Tiffany & Co., misalnya. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, penjualan mereka naik 30 persen pada April dan 90 persen di Mei.

Para pengamat menyebut tren itu sebagai revenge spending alias belanja sebagai bentuk balas dendam karena sebelumnya mereka tidak bisa melakukannya.

Meski naik, konsumsi di Tiongkok belum mampu mengembalikan penjualan secara global. Sebab, banyak negara yang masih terpuruk karena pandemi dan toko-toko masih tutup. Secara global, penjualan Tiffany & Co. Mei lalu turun 40 persen. Untuk mengatasi situasi global yang belum menentu, beberapa gerai memilih cara baru. Zara, contohnya. Mereka menutup 16 persen outlet-nya secara global atau setara 1.200 gerai.