Soal Jarak Aman, Apakah Sebaiknya 1 atau 2 Meter?
Bagikan

PUBLIKSATU – Batas jarak aman menjadi perdebatan antara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan ahli dunia. Bahkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson baru-baru ini mengusulkan batas jarak aman berinteraksi dengan seseorang tidak kurang dari 2 meter.
Sebuah studi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendapat kritik dari para ilmuwan senior soal pedoman jarak sosial baru-baru ini. Para kritikus dan peneliti mengatakan bahwa aturan jarak 2 meter tersebut terlalu berhati-hati tapi jika mengurangi jarak hanya 1 meter akan meningkatkan kemungkinan risiko infeksi dari 1,3 persen menjadi 2,6 persen.
Profesor David Spiegelhaler, ahli statistik Universitas Cambridge, sangat curiga dengan penelitian baru ini. Sedangkan ahli statistik Universitas Terbuka Profesor Kevin McConway, menyatakan bahwa analisis tidak boleh digunakan dalam argumen tentang seberapa besar risiko infeksi berada pada jarak minimum 1 meter atau 2 meter. Para ilmuwan ini percaya bahwa tidak ada cukup bukti untuk membuat penilaian tentang jarak fisik secara aman.
Perdana Menteri Boris Johnson akan meninjau ulang soal aturan jarak 2 meter ketika pusat bisnis dijadwalkan akan dibuka kembali bulan depan. Selama beberapa minggu terakhir, Johnson telah sangat ditekan oleh anggota parlemen Konservatif untuk mencabut pembatasan jarak fisik demi bisnis, terutama untuk industri perhotelan.
Anggota parlemen dan bisnis mengatakan bahwa pemerintah Inggris mengikuti aturan baru jarak 1,5 meter dari negara lain sehingga pub dan restoran dapat beroperasi lebih sulit.
Para peneliti dari Universitas McMaster di Ontario, merilis studi awal tahun ini mengklaim ulasan sistematis memperkirakan risiko infeksi. Sebab risiko jarak aman juga mempertimbangkan penggunaan masker wajah dan pelindung mata sebagai sarana pencegahan.
Sementara itu, seorang profesor di Pusat Kolaborasi WHO untuk Epidemiologi dan Pengendalian Penyakit Menular di Universitas Hongkong Ben Cowling, berkicau tentang keprihatinannya atas studi jarak fisik. Dia bahkan mengatakan bahwa bukan hanya jarak, tapi juga harus mempertimbangkan durasi pemaparan.
“Saya tidak menganggap seluruh hitungan di kertas dengan sangat serius. Analisis yang mendasari gambar 3 mengabaikan durasi yang sama pentingnya dengan jarak untuk risiko penularan. Risiko = f (durasi, jarak) bukan f (jarak),” kata Ben Cowling.