Virus Corona Bermutasi Sehingga Sulit Terdeteksi
Bagikan

PUBLIKSATU – Virus Korona bermutasi cukup aneh. Sejak awal kemunculanmya di Wuhan, Tiongkok, serangan virus ini pada penderitanya menyebabkan gangguan pernapasan, batuk, demam, hingga kematian. Namun, beberapa bulan terakhir, virus yang menyebabkan penyakit Covid-19 tersebut justru makin tak bergejala dan tak terdeteksi.
Dilansir dari Science Times, Senin (22/6), sebuah studi bersama oleh dua lembaga penelitian epidemi di Tiongkok menemukan bahwa Coronavirus baru telah mengalami mutasi cepat dan akan bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Menurut sebuah laporan dari South China Morning Post, virus Korona telah melalui setidaknya enam kali mutasi pada gennya yang meningkatkan infektivitas. Bahkan virus ini bisa lolos dari deteksi dan menyerang sistem kekebalan tubuh.
Para peneliti dari Laboratorium Kunci Negara Penyakit Pernapasan di Guangzhou dan Pusat Klinik Kesehatan Masyarakat Shanghai mengatakan bahwa sebagian besar mutasi ini terjadi di AS dan Eropa. Coronavirus menggunakan protein spike untuk mengikat dengan molekul yang disebut angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dalam sel inang. Profesor Qiu Tianyi dan Leng Qibin telah mengidentifikasi tiga mutasi yang memperkuat kekuatan ikatan virus.
Tiga mutasi tersebut terutama menargetkan sistem kekebalan manusia, hampir mirip dengan bagaimana human immunodeficiency virus (HIV) menyerang dengan mutasi cepat. Salah satu mutasi ini dapat menghancurkan ikatan ion antara antibodi dan Coronavirus, yang seharusnya menetralkan SARS-CoV-2.
“Ini berarti bahkan jika vaksin yang efektif dapat dikembangkan, mutasi yang cepat akan menyebabkan vaksin tak efektif dalam waktu singkat,” katanya.
Studi ini lebih lanjut menjelaskan Amerika Serikat dan Inggris adalah dua tempat persinggahan mutasi utama pada saat ini, merekam perubahan gen yang mempengaruhi infektivitas dan kekebalan virus. Menurut para ilmuwan, beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa rata-rata orang dewasa menderita flu yang disebabkan oleh virus Korona setiap dua tahun.
Bertahan Lebih Lama