Berita Terkini
Olahraga

Simak Kisah Mantan Striker Persebaya, Dodik Suprayogi

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 8 Juli 2020 15:05 WIB · 2 menit baca
Simak Kisah Mantan Striker Persebaya, Dodik Suprayogi

PUBLIKSATU, BOLA - Cedera membuat karir Dodik Suprayogi terhenti di usia 28 tahun. Setelah pensiun, dia tak memilih karir sebagai pelatih. Mantan mesin gol Persebaya Surabaya itu kini menjadi kepala desa.

Dodik Suprayogi melompat setinggi mungkin. Dia berusaha memenangi perebutan bola atas. Belum sampai bola diraih, kakinya disikat bek Assyabaab Yani Faturrahman. Dia kemudian harus mendarat darurat.

Kreeek. Bunyi itu terdengar bersamaan dengan Dodik mendarat. Suara tersebut berasal dari otot lutut kirinya yang sobek. Dia salah bertumpu. Hingga berujung cedera anterior cruciate ligament (ACL) lutut kiri. Dodik mengerang kesakitan. Sang striker andalan itu tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Tak disangka, momen mengerikan pada musim 1996–1997 tersebut menjadi laga terakhir Dodik. Bukan hanya bersama Persebaya. Tapi juga sebagai pemain profesional. Sebab, cedera ACL lutut kiri membuatnya harus gantung sepatu. Padahal, saat itu usianya baru 28 tahun. Usia emas untuk seorang pesepak bola. Tapi, keputusan Dodik untuk pensiun sudah bulat. ”Saya kecewa dengan manajemen saat itu,” tegasnya saat ditemui Jawa Pos di Balai Desa Kepatihan, Menganti, Gresik.

Apa yang membuat Dodik kecewa? Ternyata, selama cedera, dia merasa kurang diperhatikan. Biaya perawatan memang ditanggung sepenuhnya oleh manajemen. ”Tapi, saya harus cari dokter sendiri untuk pengobatan,” kata pria yang kini berusia 52 tahun tersebut. Dodik kemudian bertemu dengan dokter Sarwani. Saat itu Sarwani adalah dokter khusus ortopedi di RSUD dr Soetomo Surabaya.

Dodik kemudian dianjurkan untuk istirahat total dua bulan. Plus melakukan recovery satu bulan. Nah, setelah tiga bulan, kondisi bapak tiga anak tersebut membaik. Dia pun ingin kembali berlatih dengan skuad Green Force. ”Tapi, ada salah satu manajemen yang bilang saya sudah nggak dibutuhkan di tim,” ungkap Dodik. Dia ogah menyebut nama. Yang jelas, dia kecewa. ”Daripada nggak dibutuhkan, lebih baik saya mundur,” tambahnya.

Setelah itu tawaran dari klub lain berdatangan. Tapi, Dodik sudah bertekad untuk pensiun. ”Lebih baik fokus ke pekerjaan saya di PDAM,” ucapnya. Dodik memang sudah berstatus karyawan PDAM Surya Sembada Surabaya sejak 1990. Meski pendapatan jauh lebih kecil, Dodik tidak mempersoalkan. ”Masio pangkat rendah nggak opo-opo. Sing penting diajeni (Walaupun pangkat rendah tidak apa-apa. Yang penting dihargai, Red),” cetus pria kelahiran 24 Februari 1968 itu.