Kerugian Banjir Tiongkok Ditaksir USD 8,7 Miliar

PUBLIKSATU – Banjir yang melanda sebagian wilayah Tiongkok telah mempengeruhi perputaran ekonomi di negara itu. Bahkan ditaksir hujan deras menyebabkan kerugian ekonomi lebih dari 61 miliar yuan atau USD 8,7 miliar hingga 9 Juli.
Tiongkok memang mengalami musibah banjir setiap tahun. Tapi, cuaca tak terduga telah membuat situasi menjadi tidak pasti dan ancaman bencana masih akan dihadapi pada akhir Juli hingga awal Agustus sesuai data Kementerian Sumber Daya Air.
Bencana banjir besar di Tiongkok semakin meluas. Setelah sejumlah provinsi terdampak, kini Tiongkok sedang bersiap menghadapi banjir di wilayah utara yang berpotensi merusak hasil panen. Itu akibat hujan lebat dalam satu bulan terakhir.
Musibah banjir memberikan tekanan besar bagi Presiden Xi Jinping. Tiongkok yang sedang memulihkan ekonomi, justru kini merugi. Terlebih masih menghadapi pandemi Covid-19 gelombang kedua.
Dilansir dari Insurance Journal, Rabu (15/7), banjir di Tiongkok menyebabkan kerusakan ekonomi hingga miliaran Yuan. Presiden Xi Jinping pada Minggu (12/7) mendesak para pejabat untuk menerapkan langkah-langkah yang lebih kuat dan lebih baik untuk memerangi banjir.
Tiongkok sendiri masih menghadapi tantangan pandemi Covid-19. Pihak berwenang justru kini berada di bawah tekanan untuk memastikan banjir tidak merusak pemulihan ekonomi Tiongkok pasca pandemi gelombang awal. Pelonggaran pembatasan dilakukan demi pertumbuhan positif pada kuartal kedua, setelah anjlok pada kuartal pertama.
Dalam beberapa dekade terakhir, Tiongkok berhasil menekan korban jiwa akibat banjir. Itu karena pemerintah sudah mengembangkan proyek-proyek pengendalian air, hidrologi, serta sistem manajemen bencana top-down yang telah memungkinkan pihak berwenang untuk merespons lebih cepat.