Berita Terkini
Internasional

Konflik AS dan Tiongkok Merambat ke Dunia Pendidikan

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 3 September 2020 14:36 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Konflik AS dan Tiongkok Merambat ke Dunia Pendidikan
Bendera-Tiongkok-dan-AS

PUBLIKSATU – Konflik antara Amerika Serikat dan Tiongkok mulai menjarah ke dunia pendidikan.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan bahwa Trump mempertimbangkan akan membatasi pelajar Tiongkok di AS.

Selain itu, belasan peneliti Tiongkok bakal dipaksa meninggalkan AS setelah universitas di Texas menangguhkan program beasiswa yang didanai pemerintah Tiongkok.

Muncul pengawasan yang meningkat dari para sarjana Tiongkok di universitas AS atas kekhawatiran tentang pencurian kekayaan intelektual. Kondisi tersebut dikhawatirkan memunculkan sentimen xenofobia.

Ketegangan antara AS dan Tiongkok memang telah meluas ke bidang akademis. Pada Mei, pemerintahan Trump bergerak untuk membatasi mahasiswa pascasarjana dan peneliti yang terkait dengan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.

Baru-baru ini AS menetapkan Institut Konfusius yakni program yang dijalankan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengajarkan bahasa dan budaya Tiongkok sebagai misi asing yang ditujukan pada universitas-universitas AS. Tiongkok sendiri telah membantahnya dan menjelaskan bahwa itu bentuk pertukaran budaya antarnegara.

“Memang, tidak setiap mahasiswa Tiongkok yang ada di sini bekerja atas nama atau atas perintah dari Partai Komunis Tiongkok. Tapi, itu adalah sesuatu yang dianggap serius oleh Presiden Trump,” beber Pompeo seperti dilansir dari South China Morning Post, Kamis (3/9).

Pada minggu lalu University of North Texas (UNT) memberi tahu 15 mahasiswa pascasarjana lewat email bahwa mereka akan mengakhiri hubungan dengan peneliti yang didanai oleh Dewan Beasiswa Tiongkok yang dijalankan oleh Kementerian Pendidikan Tiongkok. Tidak ada alasan yang jelas, tetapi email tersebut mengatakan orang-orang yang terkena dampak akan memiliki waktu 30 hari untuk meninggalkan negara itu mulai 31 Agustus. Email tersebut dibagikan oleh Liang Yuheng, alumnus UNT yang lulus tahun lalu, dan membuat petisi untuk meminta keputusan tersebut dicabut.

Bagikan