Pemakaman Ratu Elizabeth II, Berakhirnya Sebuah Era
Bagikan

Publiksatu – “Selama 70 tahun masa pemerintahannya, mendiang ratu telah menyentuh banyak kehidupan.” Itulah sepenggal khotbah Uskup Agung Canterbury dalam upacara pemakaman kenegaraan Ratu Elizabeth II.
Upacara pemakaman tersebut diadakan di Westminster Abbey kemarin (19/9). Ini merupakan prosesi pemakaman kenegaraan terbesar sejak kematian Winston Churchill.
Churchill yang merupakan perdana menteri (PM) Inggris memang bukan keluarga kerajaan. Namun, pada 30 Januari 1965, upacara pemakaman kenegaraan dilaksanakan untuknya berkat peranannya yang luar biasa kepada Kerajaan Inggris.
Upacara pemakaman kenegaraan untuk warga sipil harus mendapatkan persetujuan dari kerajaan dan parlemen sekaligus. Churchill adalah PM pertama di bawah kepemimpinan Ratu Elizabeth II. Yang terakhir adalah Liz Truss. Ratu wafat hanya berselang dua hari setelah menunjuk Truss secara resmi sebagai PM.
Berbeda dengan upacara pemakaman biasa, pada upacara pemakaman kenegaraan ada banyak protokol yang harus dilalui. Termasuk lying-in-state selama empat hari di Westminster Hall. Ini adalah prosesi saat peti jenazah diletakkan agar orang-orang bisa memberikan penghormatan terakhir.
Meski serupa, prosesi pemakaman Ratu Elizabeth II jauh lebih besar daripada Churchill. Westminster Abbey, tempat upacara dihelat, memiliki arti tersendiri bagi Ratu Elizabeth II. Di gedung itulah dia menikah dengan mendiang suaminya, Pangeran Philip. Dia dinobatkan sebagai ratu Inggris di gedung yang sama. Ratu yang telah berkuasa selama 70 tahun itu dimakamkan tepat di samping makam Pangeran Philip di Kapel St George yang terletak di Kastil Windsor.
Hampir semua kepala negara diundang dalam prosesi untuk membawa Ratu Elizabeth II ke peristirahatan terakhirnya tersebut. Hanya ada beberapa negara yang tidak mendapatkan undangan. Yaitu, Rusia, Belarus, Syria, Afghanistan, Myanmar, dan Venezuela. Untuk Korea Utara (Korut), Nikaragua, dan Iran, yang diundang hanya duta besarnya.