Demo Tuntut Keadilan Atas Kematian Mahsa Amini Ricuh, Belasan Tewas

Publiksatu – Demo tuntut keadilan atas kematian Mahsa Amini berakhir ricuh. Aksi demo yang sudah berlangsung berhari-hari itu, hingga Kamis (22/9) telah merenggut 17 nyawa. Mereka terdiri atas para demonstran, polisi yang bertugas, dan milisi pro pemerintah.
Media lokal yang dikutip Agence France-Presse mengungkapkan, tiga tentara paramiliter yang dikerahkan untuk mengatasi demonstran telah ditembak mati maupun ditusuk di Tabriz, Qazvin, dan Mashhad. Sementara itu, polisi menampik bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan massa.
Di beberapa lokasi, demo yang menuntut keadilan atas kematian Mahsa Amini berakhir dengan bentrok. Perempuan 22 tahun itu ditangkap pada 13 September oleh polisi moral di Teheran karena baju dan jilbabnya dinilai melanggar aturan. Amini meninggal pada 16 September. Diduga, dia tewas akibat dipukuli petugas.
Untuk mendinginkan situasi, pemerintah memblokir akses media sosial seperti WhatsApp dan Instagram. Pengawas internet NetBlocks mengungkapkan, itu adalah pemblokiran terparah sejak 2019. Saat itu demonstran turun ke jalan untuk menolak kenaikan harga BBM.
Hilangnya konektivitas tersebut berskala nasional. Imbasnya, jutaan penduduk tidak bisa mengakses internet. Pemblokiran terjadi pada provider seluler utama dan perusahaan jaringan lainnya.
’’Server WhatsApp terganggu di beberapa penyedia internet hanya beberapa jam setelah Instagram diblokir,’’ bunyi pernyataan NetBlocks, seperti dikutip dari jawapos.com yang juga mengutip dari Al Jazeera.
Organisasi yang berbasis di London, Inggris, itu menyatakan bahwa gangguan internet terjadi sejak Jumat (16/9) di Teheran dan beberapa wilayah lain. Saat itu demo kali pertama pecah dan belum masif. Mulai Senin (19/9), pemblokiran juga terjadi di Provinsi Kurdistan dan Iran bagian barat.