Berita Terkini
Olahraga

Jurnalis Peliput Tragedi Kanjuruhan Mengalami Trauma

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Selasa, 11 Oktober 2022 18:58 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Jurnalis Peliput Tragedi Kanjuruhan Mengalami Trauma
Gas air mata menyelimuti Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, saat aparat keamanan menghalau Aremania yang turun ke lapangan (1/10). (Jawa Pos Radar Malang)

Publiksatu - Kericuhan di Stadion Kanjuruhan menyisakan kesedihan mendalam bagi semua pihak. Termasuk para awak media yang bertugas pada laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya, 1 Oktober malam.

Mereka tak hanya melaporkan peristiwa yang terjadi, tapi juga turun membantu Aremania yang menjadi korban. Rasa sedih tak terhindarkan, bahkan sebagian jurnalis mengalami trauma.

Misalnya yang dialami Dendi Ganda Kusuma. Setelah wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan selesai, seharusnya dia menghadiri press conference dan menyelesaikan tulisan. Namun jurnalis Bola.net itu justru menyaksikan musibah besar yang kemudian menyebabkan 131 orang meninggal dunia.

Dikutip dari jawapos.com, Dendi mengungkapkan, sebelumnya dia dan rekan-rekan jurnalis lainnya menunggu di ruang media untuk mendengarkan press conference. Selama menunggu, dia mulai mendengar suara letupan. Setidaknya terdengar lebih dari 11 kali.

“Sebetulnya saya sudah menyangka kalau letupan itu adalah tembakan gas air mata. Karena sebelumnya sudah pernah melihat dan mendengar,” kenang Dendi.

Sembari tetap menunggu, Dendi melihat beberapa orang mulai melewati lorong yang ada di depan ruang media. Orang-orang tersebut melewati lorong dengan panik. Ada yang memapah teman hingga menggendong anak kecil. Bahkan, ada yang berteriak, Gak onok ambe’ane (tidak ada napasnya).

Menyaksikan pemandangan tersebut, naluri Dendi sebagai jurnalis menuntut untuk langsung mencari tahu. Terlebih pada 2018 lalu ada peristiwa serupa yang skalanya mirip. Dia pun memutuskan melakukan pengecekan terlebih dahulu.

Bagikan