Berita Terkini
Internasional

Imran Khan Ditembak, Menjadi Target Pembunuhan

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Sabtu, 5 November 2022 04:50 WIB · 2 menit baca
Imran Khan Ditembak, Menjadi Target Pembunuhan
Mantan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, saat ditolong oleh para pendukungnya usai penembakan. Khan tertembak pada bagian kakinya. (Urdu Media via REUTERS)

Publiksatu – Mantan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan menjadi target pembunuhan pada Kamis (3/11). Imran Khan tertembak di bagian kaki dalam satu serangan terhadap iring-iringannya yang memprotes pemerintah.

Para pembantu Khan menyebut penembakan tersebut sebagai upaya pembunuhan oleh para pesaing dirinya.

Dikutip dari jawapos.com, serangan itu terjadi di Wazirabad yang berjarak hampir 200 kilometer dari ibu kota Pakistan, Islamabad. Di kota yang terletak di Punjab itu, Khan yang kehilangan kursi perdana menterinya melalui pemungutan suara oleh parlemen pada April lalu, sudah selama enam hari melancarkan gerakan protes.

Ketika penembakan terjadi, Khan sedang berdiri dan melambai-lambaikan tangan dari atap sebuah truk kontainer ke arah ribuan pendukungnya yang bersorak-sorak. “Itu jelas-jelas percobaan pembunuhan. Khan tertembak, tapi keadaan beliau stabil. Berdarah banyak,” kata Fawad Chaudury, juru bicara partai pimpinan Khan, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), kepada Reuters.

“Kalau saja si penembak tidak dihentikan oleh orang-orang di sana, seluruh pimpinan PTI kemungkinan akan terbunuh,” ujarnya.

Asisten Khan lainnya, Asad Umur, mengatakan para dokter mengatakan kepadanya bahwa pemimpin mereka itu sudah tidak lagi berada dalam bahaya. Dalam pernyataan melalui video, Umar mengatakan Khan meyakini bahwa Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan pejabat intelijen Mayor Jenderal Faisl Naseer berada di belakang serangan itu. Umar tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung tuduhan tersebut.

Menteri Informasi Pakistan Marriyum Aurangzeb menyebutkan seorang tersangka sudah ditahan dalam kasus penyerangan pada Kamis (3/11) itu. Namun, Aurangzeb, yang berbicara atas nama pemerintah, tidak segera menanggapi permintaan tanggapan terkait dengan tuduhan Umar tersebut.