Berita Terkini
Olahraga

Sistem Bubble Bisa Membuat Klub Liga 1 Menderita Secara Finansial

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Rabu, 9 November 2022 06:00 WIB · 2 menit baca
Bagikan
Sistem Bubble Bisa Membuat Klub Liga 1 Menderita Secara Finansial
Skuad Persebaya Surabaya saat merayakan keberhasilan mengalahkan Bali United pada Liga 1 musim lalu. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Publiksatu - Madura United menjadim salah satu klub Liga 1 yang menolak sistem bubble. Mereka tidak mau kompetisi berjalan seperti musim lalu.

”Tidak boleh lagi ada sentralisasi kompetisi. Karena sentralisasi kompetisi bisa melahirkan dampak yang luar biasa. Termasuk pada bisnis industri, pekerja stadion. Semuanya tidak bisa bergerak,” kata Direktur PT Polana Bola Madura Bersatu Zia Ul Haq seperti dikutip dari jawapos.com.

Dia juga berharap pertandingan tetap bisa disaksikan suporter. Musim lalu klub Liga 1 sudah menderita. Sistem bubble membuat klub tidak mendapat revenue dari suporter sama sekali.

”Kalau penonton tidak ada, (klub) dapat uang dari mana? Sumber pendapatan utama sepak bola itu salah satunya dari penonton selain sponsor, _merchandise-, dan subsidi dari operator juga,” kata pria asli Pamekasan itu.

Pemikiran serupa datang dari Bali United. Sang pelatih, Stefano Cugurra, tidak setuju jika sistem bubble kembali diterapkan. Sistem itu membuat pendapatan klub dari penonton hilang. Sudah begitu, pengeluaran klub dipastikan membengkak.

”Kalau sistem bubble diterapkan, klub akan rugi secara finansial. Harus bayar hotel, sewa lapangan untuk latihan, makanan, dan sewa bus,” beber pelatih yang akrab disapa Teco itu.

Belum lagi tenaga para pemain bakal sangat diperas. Dalam sistem bubble, jadwal pertandingan dipastikan lebih padat. Bahkan, Teco menyebut tim bisa bermain enam kali dalam sebulan.

Bagikan