Berita Terkini
Internasional

Menlu Rusia Pulang, Tidak Ada Komunike?

Oleh Redaksi Publiksatu / Rudi · Kamis, 17 November 2022 05:18 WIB · 2 menit baca
Menlu Rusia Pulang, Tidak Ada Komunike?
PERWAKILAN RUSIA: Menlu Retno Marsudi menyambut Menlu Rusia Sergei Lavrov menjelang jamuan makan malam. (AFP)

Publiksatu – Kondisi kesehatan Menlu Rusia Sergei Lavrov sempat menjadi pertanyaan dalam KTT G20. Dia dikabarkan mengalami gangguan pada jantungnya. Meski begitu, Lavrov dipastikan dalam kondisi sehat. Rusia pun menampik isu Lavrov jatuh sakit.

Dikutip dari jawapos.com, Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengatakan, kabar tentang Lavrov sakit jantung adalah bohong.

Zakharova mengunggah video Lavrov yang berusia 72 tahun itu sedang duduk di teras, mengenakan celana pendek dan kaus, serta membaca dokumen. “Kami di sini bersama Sergei Viktorovich (Lavrov) di Indonesia, membaca berita dan kami tidak dapat memercayai mata kami,” kata Zakharova dilansir AFP.

Tadi malam Lavrov telah bertolak kembali ke Rusia sekitar pukul 20.30 Wita. Kembalinya utusan Presiden Rusia Vladimir Putin itu memunculkan spekulasi tak akan ada komunike. Sebelumnya, memang beredar rencana deklarasi komunike yang melibatkan negara-negara G20. Komunike itu disebut akan berisi sikap negara-negara yang menyesalkan dampak invasi Rusia ke Ukraina. Selain itu, ada kesepakatan untuk menolak penggunaan senjata nuklir. Lavrov sendiri disebut mengkritik rancangan komunike yang diinisiasi negara-negara Barat itu.

Andai komunike benar-benar batal, tidak berarti presidensi G20 Indonesia gagal. Indonesia tetap dinilai sukses menjalankan tugasnya setahun terakhir. Pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menegaskan, komunike bukan tolok ukur keberhasilan presidensi G20. Komunike hanyalah sebuah pernyataan bersama, bagaimana para kepala negara punya persepsi yang sama ke depan. Terkait hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya sudah jelas menyampaikan bahwa perang harus diakhiri.

Nah, yang menjadi persoalan, bagaimana merumuskan perang diakhiri itu yang pastinya tidak sama persepsinya. Misalnya, Amerika Serikat yang mengartikan ini sebagai perang agresi oleh Rusia harus diakhiri. Jika demikian, dipastikan bahwa Rusia tidak akan terima. Padahal, komunike harus konsensus, harus bersama. Ini yang harus dikomunikasikan negara G20 di level bawah sebelum disetujui para kepala negara.

”Kita harapkan bisa (ada komunike, Red). Tapi, kalau tidak bisa, bukan suatu kegagalan bagi Indonesia. Masak segala keinginan kepala negara yang tidak bisa dikendalikan dilimpahkan ke Indonesia,” paparnya kepada koran ini kemarin (15/11).