Pertemuan Ganjar-Mahfud Disebut Dongkrak Elektoral Pemilih Milenial

PUBLIKSATU, JAKARTA–Bakal calon presiden (bacapres) PDIP Ganjar Pranowo melakukan pertemuan empat mata dengan Menkopolhukam Mahfud MD pada Minggu (10/9). Pertemuan itu mendapat tanda tanya besar dari banyak pihak. Termasuk apakah Ganjar akan menggandeng Mahfud MD sebagai bacawapres.
Pengamat politik asal Universitas Airlangga Suko Widodo menilai Mahfud MD dapat mendongkrak elektoral Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024 dari kalangan milenial. Sebab, Mahfud memiliki magnet atau daya tarik yang kuat bagi pemilih mendatang yang menginginkan penegakan hukum dan pemberantasan kriminalitas baik white collar crime atau blue collar crime.
Baca Juga: Jika Pendaftaran Capres-Cawapres Tak Dimajukan Diperkirakan Ganggu Tahapan Pemilu
”Nah pemilih milenial melek digital dan paham akan memilih orang yang memiliki track record yang jelas. Mahfud MD masuk kriteria itu. Saya melihat dari media sosial, komunikasi politik, kinerja, dan isu-isu, saya kira dari aspek popularitas dan tren preferensi cukup tinggi di Mahfud MD. Skalanya itu nasional bukan hanya di Jawa Timur," kata Suko Widodo, Senin (11/9).
Apalagi, menurut dia, saat ini data pemilih milenial mencapai 25 persen dari total pemilih. Lebih dari 70 persen pemilih milenial melek digital dan memiliki akses untuk mencari track record orang yang akan mereka pilih. Sejauh ini, lanjut Suko, Mahfud MD menjadi sosok yang kuat bagi anak muda.
Meski secara usia bukan lagi milenial, dia menjelaskan, Mahfud bisa masuk ke segmentasi itu tanpa khawatir dan tanpa polesan. Mahfud bisa menjelaskan duduk persoalan hukum dan bisa memberikan solusi bagi problem yang selama ini jadi pembicaraan anak muda.
Baca Juga: Imbangi Turkmenistan, Skuad Garuda Muda ke Final Piala Dunia 2024
Kelebihan Mahfud MD, menurut Suko, selain memiliki track record kinerja yang jelas, juga bisa menjembatani Ganjar dengan para pemilih dari kalangan nahdliyin. Apalagi PBNU sudah menegaskan tidak bermain politik.
”Maka kesempatan Mahfud sangatlah terbuka lebar. Selain itu, keaktifkan Mahfud MD di dunia digital membuatnya lebih mudah berkolaborasi dengan Ganjar yang selama ini juga aktif di dunia digital,” papar Suko Widodo.
”Mendongkrak elektoral. Sangat mungkin. Saat ini kan kader-kader NU lebih bebas untuk berkomunikasi dengan siapapun, karena PBNU tidak berafiliasi langsung dengan PKB. Mahfud bagaikan magnet, terutama di pemilih milenial ya,” tambah dia.
”Popularitas cukup tinggi, kinerja oke, NU, berasal dari Jatim, ya sangat bisa berpasangan. Jika mereka mau dipasangkan, saya rasa tinggal diujicobakan saja, di testing water. Dilihat nanti respons dan ukuran keterpilihannya,” imbuh dia.
Tak hanya itu, Suko Widodo menambahkan, sosok nahdliyin yang melekat pada Mahfud MD bisa membuka jalan bagi Ganjar Pranowo untuk silaturahmi dengan ulama dan kiai-kiai khos Jawa Timur. Di Madura, Ganjar akan memiliki suara yang lumayan dengan adanya sosok Mahfud MD.
Bagi Suko, selain pembahasan atau brainstorming visi, misi, dan program, pertemuan Ganjar dan Mahfud juga bisa dilihat sebagai komunikasi penjajakan keduanya untuk Pilpres.