Alumni Stanford Dukung Kerja Sama SDSS dengan Otorita IKN
Bagikan

.
PUBLIKSATU, JAKARTA - Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) telah menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Stanford Doerr School of Sustainability (SDSS). Kesepakatan kerja sama itu dalam rangka membentuk kolaborasi strategis dalam bidang penelitian dan pendidikan menuju ibu kota hijau, Nusantara.
Penandatanganan LoI ini berlangsung di Jakarta pada Jumat, (8/9), dengan melibatkan Kepala OIKN, Bambang Susantono, dan Dekan Stanford Doerr School of Sustainability, Arun Majumdar.
Ketua Stanford Alumni Club of Indonesia, Pandu Sjahrir antusias menyambut kerja sama yang terjalin antara SDSS dan OIKN. Sebab menurutnya, aspek yang paling penting dalam keberlanjutan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan ini merupakan upaya jangka panjang.
Baca Juga: Narkoba Jaringan Fredy Pratama, Asetnya Hingga Rp 10,5 Triliun
"Stanford adalah sekolah yang paling terkemuka karena menggabungkan keunggulan dalam bidang bisnis dan teknologi. Oleh karena itu, saya sangat bersemangat dengan kerja sama ini," ungkap Pandu dalam acara penandatanganan LoI.
Diketahui, Stanford Doerr School of Sustainability adalah sebuah institusi pendidikan di Universitas Stanford yang memiliki fokus utama pada isu perubahan iklim dan keberlanjutan. Sekolah ini dibuka pada tanggal 1 September 2022, menjadi sekolah baru pertama di Stanford sejak didirikannya Sekolah Humaniora dan Sains pada tahun 1948.
"SDSS dianggap sebagai salah satu sekolah terkemuka yang berkaitan dengan perubahan iklim di Amerika Serikat," ujar Pandu.
Sementara itu, Dekan Stanford Doerr School of Sustainability, Arun Majumdar, mengungkapkan kekaguman terhadap Ibu Kota Nusantara karena pendekatannya yang memprioritaskan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam proses pembangunan. Arun merasa terhormat dapat berkontribusi dalam proyek pembangunan IKN yang menurutnya sangat ambisius.
Baca Juga: Ganjar Pranowo Keluarkan Manifesto di Akun Youtube
Menurut Arun, kerja sama penelitian ini berpotensi menjadikan Nusantara sebagai contoh uji coba metode baru pembangunan perkotaan berkelanjutan dan menjadi blueprint yang dapat diikuti oleh negara-negara lain.
"Apa yang Indonesia lakukan di Nusantara dapat jadi blueprint yang potensial untuk ditiru oleh negara-negara lain, khususnya di Asia Tenggara," katanya.
Sementara itu, Indonesia dipilih karena berperan penting dalam transisi menuju rendah karbon secara global, dengan komitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060.