Pengamat Sebut Yusril Ihza Mahendra Dapat Mengimbangi Prabowo Untuk Optimalkan Ceruk Suara Islam

PUBLIKSATU, JAKARTA- Hingga saat ini bakal cawapres untuk dua bacapres belum terungkap ke publik. Partai politik (parpol) pengusung belum mendeklarasikan siapa figur pendamping Ganjar Pranowo maupun Prabowo Subianto.
Ada banyak sosok yang digadang-gadang dapat mendampingi kedua figur bacapres tersebut. Mulai dari Erick Thohir, Sandiaga Uno, Yusril Ihza Mahendra, Mahfud MD, dan banyak nama lainnya.
Untuk Yusril Ihza Mahendra, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin menilai, ketua umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu dapat menguatkan Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan ceruk suara Islam.
Baca Juga: LSI Denny JA: Prabowo Unggul di Angka 39,8 persen dari 1.200 Responden
“Pak Prabowo dari militer dan nasionalis. Terkenal dengan ketegasannya. Di saat yang sama diimbangi dan ditambah kekuatannya dengan Yusril yang bisa mengambil dari suara ceruk kelompok Islam," ujar Ujang kepada awak media (1/10).
Ujang menilai Yusril Ihza Mahendra selain dekat dengan para kiai dan ulama, juga memiliki konsistensi dalam memperjuangkan nilai-nilai Partai Masyumi. Mantan mensesneg itu dianggap mampu meneruskan perjuangan guru dan mentornya terdahulu, M. Natsir.
Selain itu, Yusril merupakan figur dengan kapasitas intelektual dan integritas yang luar biasa. “Yusril kapasitas intelektualnya luar biasa. Integritasnya juga luar biasa. Lalu, kapasitas kemampuan ekspertis di bidang hukumnya juga luar biasa,” ujar Ujang.
Baca Juga: Presiden Partai Buruh Menduga Ditolaknya Gugatan UU Cipta Kerja karena Satu Hakim Diganti DPR
Integritas itu terlihat ketika Yusril dipercaya menjadi penulis pidato Presiden Soeharto di usia yang masih sangat muda. Berdasarkan pengamatan Ujang, Yusril adalah satu dari sedikit akademisi yang tetap bernas dalam menyampaikan sesuatu secara lugas, meskipun sudah terjun ke dunia politik.
"Tidak banyak seorang intelektual yang masuk di politik yang bicaranya tidak konsisten, artinya tidak bernas. Kalau Yusil bernas. Jadi kalau intelektual masuk politik biasanya hilang kebernasannya itu,” ujar Ujang.