Keberadaan Gibran Cawapres Prabowo Dinilai Bisa "Menggoyangkan" PDIP di Jateng

PUBLIKSATU, JAKARTA – Kehadiran Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto memang cukup fenomenal belakangan ini.
Kehadiran sosok tersebut diduga-duga akan memecah suara pemilih di Jawa Tengah, terutama Solo Raya.
Pasalnya daerah Jawa Tengah yang sempat menjadi wilayah kekuasaan Ganjar Pranowo ini dikenal sebagai basis PDI Perjuangan (PDIP) atau kandang banteng.
Pakar Hukum Tata Negara Universitas Sebelas Maret Agus Riewanto mengatakan bahwa terdapat peluang suara Ganjar Pranowo yang diusung PDIP akan terbelah setelah kehadiran Gibran sebagai cawapres Prabowo.
Baca Juga: Paslon Presiden-Wapres Tak Harus Kader Partai
“Jika melihat dari ceruk suara di Solo Raya, semestinya menjadi ceruk suara Ganjar. Namun dengan adanya Gibran ini, bisa terpecah menjadi tiga. Satu golput, satu pilih Ganjar-Mahfud, dan satu pilih Prabowo-Gibran. Kalau untuk di Jateng, sulit beralih ke Anies. Sebab, massa Anies sudah sangat solid, jadi swing voter-nya kecil,” kata dia.
Agus Riewanto melihat adanya sebuah irisan yang sama antara Gibran dan Ganjar. Sehingga, pemilih PDIP mengalami pergeseran yang ketat.
“Tadinya bisa 70 persen ke Ganjar ini bisa berubah,” tambahnya.
Mengenai posisi Gibran di PDI, Agus menilai, setelah Gibran diusung menjadi cawapres dari partai lain maka secara logis dia sudah tidak lagi menjadi kader partainya yang saat ini.
Baca Juga: Zulkifli Hasan Sebut Prabowo - Gibran Kombinasi yang Pas untuk Indonesia
“Karena secara logis tidak bisa memiliki dua kartu keanggotaan parpol. Logikanya begitu,” ucapnya.
Ia pun menambahkan, secara etika memang tidak pantas Gibran diusung oleh partai lain sebelum mengundurkan diri dari partai yang saat ini bersamanya.
Akan tetapi, hal tersebut merupakan urusan pribadi masing-masing karena kode etik sifatnya universal dan subjektif, bukan hukum.
“Bukan hanya Gibran yang tidak beretika, tapi partai mengusung di Koalisi Indonesia Maju termasuk Prabowo juga sama. Sudah tahu dia (Gibran) kader partai lain, diambil dan dirayu hanya untuk elektabilitas karena dia anak presiden. Ini juga nggak etis,” ujar Agus dikutip JawaPos.com melalui Radar Solo.
Baca Juga: Anies Janjikan Beri Perhatian Lebih ke Pesantren jika Jadi Presiden