Berita Terkini
Nasional

Inkonsistensi Hasto dan Adian Soal Politik Dinasti Dipertanyakan

Oleh Djumaluddin · Selasa, 7 November 2023 00:35 WIB · 3 menit baca
Inkonsistensi Hasto dan Adian Soal Politik Dinasti Dipertanyakan
Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu

PUBLIKSATU, JAKARTA - Ketua Umum DPP Persaudaraan 98, Wahab Talaohu menyoroti soal inkosistensi sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan legislator Adian Napitupulu terkait inkonsistensi sikap politik keduanya dalam menanggapi isu politik dinasti pasca Prabowo-Gibran resmi berpasangan maju dalam Pilpres 2024.

“Kita melihat ada inkonsistensi sikap politik yang ditunjukan oleh pak Hasto dan bung Adian. Di mana ketika Gibran maju sebagai calon Wali Kota Surakarta pada Pilkada 2020 yang diusung oleh PDIP, mereka berdua saat itu ada di frontline sebagai superhero yang membela dan menepis isu dinasti tersebut,” ungkap Wahab Talaohu dalam keterangan tertulisnya kepada JawaPos.com, Senin (6/11).

Wahab mencatat, Adian Napitupulu pernah mengeluarkan pernyataan yang mendukung pencalonan Gibran sebagai wali kota Solo. Adian berdalih bahwa Gibran maju sebagai petarung dan bukan jabatan yang diwariskan.

"Ini tarung bebas, tarungnya di rakyat. Tapi kalau jabatan yang diwariskan itu namanya dinasti, Kita uji aja, mampu enggak Gibran memenangkan hati dan pikiran rakyat sehingga membuat rakyat datang ke TPS untuk memilih dia," pungkas Adian saat itu.

Baca Juga: Resmi Dirilis, Susunan TKN Prabowo-Gibran untuk Pilpres 2024

Pernyataan Adian lantas diperkuat oleh Hasto Kristiyanto Sekjen PDI Perjuangan dalam acara pembekalan Sekolah Partai untuk calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah yang dilakukan secara daring pada 24 juli 2020.

Hasto saat itu menegaskan bahwa isu dinasti politik itu tidak berdasar. Karena masyarakat yang akan menentukan keterpilihan sosok berdasarkan kinerja, pengalaman dan kepemimpinannya.

"Masyarakat pada akhirnya melihat rasional. Di dalam era demokrasi di mana pelaksanaan pemilu adalah secara langsung, proses Pendidikan politik rakyat berjalan cepat, dampaknya proses demokrasi meningkatkan rasionalitas publik,” pungkas Hasto.

Merespon hal itu, Wahab secara prinsip sepakat dengan pandangan kedua tokoh PDI Perjuangan di atas, karena tidak ada alasan mendasar majunya Gibran dipandang sebagai politik dinasti.

Baca Juga: Konsolidasi di Malaysia, Ribuan Pekerja Migran Pakai Topeng Ganjar

“Secara prinsip kita sepakat dengan pak Hasto dan bung Adian. Sebab di era demokrasi rakyat sudah semakin rasional, dipilih langsung oleh rakyat, bukan jabatan yang diwariskan, dan yang lebih penting seperti kata bung Adian, mas Gibran sudah membuktikan mampu meyakinkan rakyat dan menang,” beber Wahab.

Namun, Wahab menyayangkan adanya perubahan sikap politik dari Hasto dan Adian yang kontradiktif dengan sikap sebelumnya pada Pilwakot Surakarta. Dari sebelumnya mendukung penuh kini berubah arah dengan membangun steriotipe politik dinasti yang disematkan kepada Jokowi dan Gibran.

“Inilah yang patut kita pertanyakan, kenapa tiba-tiba mereka berubah. Tentu karena Gibran kali ini maju di Pilpres sebagai cawapres Prabowo. Inilah sikap inkonsistensi dan paranoid dari PDI Perjuangan yang disajikan kepada publik,” pungkas Wahab.