Berita Terkini
Nasional

Bukan Gimmick dan Janji Manis, Pemilih Pemula Butuh Langkah Konkret

Oleh Djumaluddin, Publik Satu · Kamis, 7 Desember 2023 05:05 WIB · 2 menit baca
Bukan Gimmick dan Janji Manis, Pemilih Pemula Butuh Langkah Konkret
Mahasiswa UI, Russel Anggalaksana dan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Shafiyah Nur Ubai, dalam jumpa pers bersama Amnesty International Indonesia, di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol (RMOL)

PUBLIKSATU, JAKARTA - Tuntutan kepada calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) agar tidak hanya mengumbar janji dan membuat gimmick di media sosial (medsos), disampaikan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Amnesty International Indonesia.

Mahasiswa Universitas Indonesia, Russel Anggalaksana dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Shafiyah Nur Ubai, adalah dua pemilih pemula yang menyampaikan hal itu.

Russel yang menjabat Vice Director Amnesty Chapter UI memandang, pada masa kampanye saat ini para kontestan Pilpres 2024 cenderung menebar gimmick dan janji manis semata di medsos.

"Sebetulnya yang jadi konsen utama kami, jangan sampai (kampanye di) media sosial ini hanya sebagai gimmick saja," ujar Russel dalam jumpa pers bersama jajaran Amnesty International Indonesia, di Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/12).

Baca Juga: Seluruh Santri Anies-Muhaimin Diintruksikan Mengamankan Suara dan Hak Pilih Rakyat

Selain itu, Russel juga mengkritik materi kampanye yang disampaikan oleh 3 pasangan capres-cawapres 2024 di medsos. Karena menurutnya, hal tersebut tidak menyelesaikan masalah yang ada.

"Kami di sini sebagai anak muda itu ingin melihat substansinya, bagaimana media sosial ini bisa dimanfaatkan, bukan hanya untuk tanda kutip menciptakan gimmick-gimmick, janji-janji manis saja," tutur Russel.

Dia ingin agar anak muda diberi sebuah kepastian dan komitmen dalam menjawab permasalahan yang ada.

Sementara, Shafi yang menjabat sebagai Sekretaris Amnesty Chapter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan, medsos di masa kampanye hanya dijadikan media pencitraan.

“Memang benar, media sosial dijadikan ketiga paslon ini untuk menunjukkan citra atau image mereka yang baru gitu ya. Ada yang gemoy, joget-joget dan segala macam," katanya.

Baca Juga: PDIP Kini Minta Gubernur Jakarta Tetap Dipilih Rakyat

Shifa yang baru pertama kali memilih pada Pemilu 2024 ini berharap, model kampanye di medsos yang cenderung hanya menunjukkan gimik dan janji manis saja tidak menutup ruang pemilih muda menyampaikan kegelisahannya mengenai kondisi bangsa saat ini.

"Kita semua jangan sampai bergeser fokusnya. jangan sampai ke-gemoy-an itu mendiskreditkan niat kita untuk memilih calon sesuai visi misi mereka yang sesungguhnya gitu," ungkapnya.

"Jangan sampai fokus kita hanya sekadar pada kesenangan atau humor-humor yang ada gitu," demikian Shifa menambahkan.