Berita Terkini
Nasional

Beberkan Sejumlah Masalah Pesisir, Rumah Perempuan Nelayan Siap Dukung Ganjar-Mahfud

Oleh Djumaluddin, Publik Satu · Senin, 1 Januari 2024 01:10 WIB · 2 menit baca
Beberkan Sejumlah Masalah Pesisir, Rumah Perempuan Nelayan Siap Dukung Ganjar-Mahfud
Rembuk Iklim Perempuan Nelayan Se-Jawa Timur deklarasikan dukungan ke pasangan Capres-Cawapres Ganjar Pranowo-Mahfud MD/Ist

PUBLIKSATU, JAWATIMUR - Sebanyak 350 perempuan nelayan berkumpul menyatukan gagasan dan aspirasi melalui Rumah Perempuan Nelayan Indonesia di seluruh kabupaten di Jawa Timur bersama Tim Pemenangan Ganjar-Mahfud menyelenggarakan Rembuk Iklim Perempuan Nelayan Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ketua Umum Perempuan Nelayan, Rosinah menyampaikan bahwa Rembuk Iklim Perempuan Nelayan, menjadi ruang bagi perempuan nelayan untuk berkonsolidasi menyampaikan pengalaman dan pengetahuan perempuan menghadapi berbagai hambatan untuk melanjutkan hidup di tengah cuaca ekstrim yang melanda nelayan.

“Dalam konteks perubahan iklim perempuan adalah korban yang paling menderita, beragam cara ditempuh untuk dapat melanjutkan hidup, di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit diakses oleh perempuan,” terang Rosinah dalam keterangannya, Minggu (31/12).

Lanjut Rosinah, ada 6 hal yang menjadi perhatian Rumah Perempuan Nelayan sebagai dampak dari perubahan iklim yang dihadapi kaum perempuan.

“Pertama, persoalan kesehatan perempuan dan anak. Ini menjadi satu hal yang masih melingkupi hidup perempuan,” ungkapnya.

“Kedua, pendidikan anak, air bersih, pemukiman yang rusak, limbah sampah yang bertumpuk dan bau, alat-alat tangkap yang rusak, berkurangnya hasil tangkap semakin mempertaruhkan kehidupan nelayan dalam menata kehidupan yang lebih baik,” tegas Rosinah

Sambung Rosinah, ketiga, persoalan BBM subsidi bagi nelayan serta persoalan permodalan bagi nelayan. Keempat, meningkatnya anggota keluarga nelayan yang terlilit utang karena pinjaman.

“Kelima, cuaca ekstrim yang sulit diprediksi nelayan karena cuaca yang tidak menentu. Dan keenam, Naiknya muka air laut dan cuaca ekstrim yang meluluhlantakan sarana-prasarana perikanan nelayan,” bebernya.

Masih kata Rosinah, dalam situasi tersebut, perempuan dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif.

“Bagaimana meja makan tetap tersedia, bagaimana anak-anak tetap bisa sekolah, dan bagaimana anak-anak terjaga kesehatannya, yang kesemua hal tersebut harus dibebankan kepada perempuan,” ungkapnya lagi.

Di sisi lain, sambung Rosinah, lemahnya perlindungan negara terhadap perempuan pesisir berdampak pada lemahnya akses terhadap program pemberdayaan dan perlindungan bagi perempuan.

Rosinah menegaskan ini menjadi hal mendasar perjuangan Rumah Perempuan Nelayan.