Mempertanyakan Posisi Nusantara dalam Kosmologi Dunia: Sebuah Refleksi
Bagikan

MENEMUKAN channel yang menarik rekomendasi dari Dian Sastrowardoyo di podcast Raditya Dika namanya Predictive History. Kebetulan video pertama yang aku tonton membahas mengenai immigration trap. Ada bagian yang aku setujui dan bisa diambil sebagai pelajaran, kek fakta bahwa para imigran yang berasal dari Muslim community memiliki karir akademik yang tidak secemerlang masyarakat Asia Timur.
Tapi ada juga bagian yang sangat mengganjal, terutamanya saat menjelaskan dampak dari imigrasi. Dia terdengar menyamakan kedatangan imigran dari komunitas kulit hitam, Muslim selayaknya kedatangan British ke wilayah Amerika dan Australia, yang mana kedatangan orang kulit putih di sana untuk sepenuhnya mengakuisisi segala macam sumber daya yang ada dan menjadikan orang-orang Indian di Amerika, Aborigin di Australia sebagai budaknya mereka karena orang kulit putih menganggap bahwa rasnya mereka lebih superior dibanding para penduduk asli. Terus kecenderungan dia menempatkan China sebagai ras dan wilayah adidaya, dia melupakan peran lanjut ▶️
Dia melupakan fakta bahwa China tidak memiliki peran besar terhadap rempah sebagai komoditas utama pada abad 16–19 yang mana pada masa itu orang-orang Eropa begitu tergila-gila dengan rempah yang wanginya tak tertandingi. Rempah-rempah itu bernama pala dan cengkeh.
Kedua rempah itu hanya berasal dari satu wilayah yaitu Maluku negeri berjuluk Spice Islands (kepulauan rempah-rempah).
Walaupun sebegitu besar efeknya namun tidak disebutkan, ini bukan sesuatu yang ahli sejarah dapat lewatkan. Aku paham bahwa kekayaan sejarah dan budaya Nusantara akan tetap dipandang sebagai “karakter pendukung” di setiap pembahasan sejarah yang dituturkan oleh orang luar.
Di sini menimbulkan pertanyaan besar. Mau sampai kapan kita dikenal sebagai “karakter pendukung” dalam kosmologi dunia sedangkan banyak bukti sejarah yang menunjukkan begitu besarnya peran tanah kita terhadap dunia? Lantas tidak malu kah kita sebagai penutur asli tidak mengenali, membaca, menempatkan negeri kita di posisi yang pantas?
Kamal Hi Ahmad
(Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa Inggris Unidayan Baubau)